Kamis, 08 Oktober 2026
JANGAN BIARKAN AMARAH MENANG
MENYALAKAN KESADARAN DIRI
Senin, 05 Oktober 2026
KENAPA SETELAH TERSENYUM HARUS ADA TANGIS?
Kenapa ya, setiap kali selesai tersenyum bahagia, tidak lama kemudian ada saja alasan untuk menangis?
Seolah-olah bahagia hanya diberi waktu sebentar, lalu kehidupan kembali mengajarkan kita tentang rasa kehilangan, kecewa, rindu, atau sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.
Kenapa harus menangis?
Mungkin karena manusia memang tidak diciptakan untuk selalu kuat.
Ada kalanya hati yang terlalu lama menahan, akhirnya membutuhkan air mata untuk melepaskan semuanya.
Menangis bukan berarti bahagia kita sebelumnya palsu.
Bukan juga berarti kita lemah.
Kadang, kita menangis justru karena pernah begitu bahagia. Karena kita takut kehilangan rasa itu. Karena kita sadar bahwa tidak semua hal indah bisa tinggal selamanya.
Hidup memang seperti itu.
Hari ini kita tertawa, besok mungkin menangis.
Hari ini hati terasa penuh, esok mungkin terasa kosong.
Dan setelah air mata mengering, mungkin akan ada alasan lain untuk tersenyum lagi.
Jadi, kalau hari ini kamu menangis setelah kemarin begitu bahagia, jangan merasa hidup sedang tidak adil.
Menangislah jika memang perlu.
Biarkan air mata jatuh.
Biarkan hati beristirahat.
Sebab setelah tangisan selesai, kita akan belajar lagi bahwa hidup bukan tentang selalu bahagia, tetapi tentang mampu menerima setiap rasa yang datang.
Tertawa dan menangis adalah bagian dari perjalanan.
Dan mungkin, justru karena kita pernah menangis, kita jadi lebih menghargai arti sebuah senyuman.
Jadi tidak apa-apa menangis hari ini.
Besok, kita coba tersenyum lagi. ๐ค
-EVA MUFLIKHA
Jumat, 02 Oktober 2026
AKU BELAJAR SEMBUH DARI ANXIETY
Aku dan Anxiety yang Tidak Selalu Terlihat
Tidak semua luka terlihat dari luar.
Ada hari-hari ketika aku terlihat baik-baik saja. Masih bisa tersenyum, bekerja, berbicara dengan orang lain, bahkan bercanda seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi di dalam kepala, ada begitu banyak hal yang sedang berisik.
Aku hidup dengan anxiety, sebuah kecemasan yang terkadang datang tanpa aku minta. Ada saatnya aku sendiri tidak mengerti mengapa tubuh dan pikiranku bereaksi seperti itu.
Aku bisa tiba-tiba merasa gelisah.
Memikirkan sesuatu berulang-ulang.
Takut terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
Sulit tidur karena kepala tidak berhenti membuat berbagai kemungkinan.
Jantung berdebar, dada terasa tidak nyaman, tubuh tegang, napas terasa berbeda.
Dan yang paling melelahkan adalah ketika pikiranku terus bertanya:
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"
"Bagaimana kalau aku gagal?"
"Bagaimana kalau semuanya menjadi lebih buruk?"
Kadang aku tahu bahwa pikiranku sedang berlebihan. Tetapi mengetahui hal itu tidak selalu membuat rasa cemas langsung menghilang.
Ciri-ciri yang sering aku rasakan
Setiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda. Namun beberapa hal yang sering muncul ketika kecemasan datang adalah:
- Pikiran terus memikirkan kemungkinan buruk.
- Sulit merasa tenang meskipun sebenarnya tidak sedang menghadapi bahaya.
- Jantung berdebar.
- Napas terasa cepat atau tidak nyaman.
- Tubuh terasa tegang atau gemetar.
- Sulit tidur karena pikiran terus berjalan.
- Sulit berkonsentrasi.
- Mudah lelah dan merasa kewalahan.
- Mudah panik atau takut.
- Keinginan untuk menghindari situasi tertentu karena merasa tidak nyaman.
Aku belajar bahwa aku tidak harus memusuhi diriku sendiri hanya karena mengalami semua itu.
Lalu, bagaimana aku menghadapinya?
Ketika anxiety datang, aku belajar berhenti sejenak.
Aku mencoba menarik napas perlahan dan mengembuskannya dengan tenang. Aku mengingatkan diriku bahwa tidak semua hal yang ada di kepala harus menjadi kenyataan.
Aku belajar membedakan:
mana yang bisa aku kendalikan, dan mana yang harus aku lepaskan.
Aku juga mencoba menjaga tidur, makan lebih teratur, bergerak atau berolahraga ringan, dan mengurangi hal-hal yang membuat tubuh semakin mudah gelisah.
Kalau pikiran terlalu penuh, aku menulisnya.
Kalau hati terlalu berat, aku mencoba bercerita kepada orang yang aku percaya.
Dan ketika kecemasan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, tidur, atau kehidupan sehari-hari, aku belajar bahwa mencari bantuan psikolog atau psikiater bukanlah sesuatu yang memalukan.
Aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Aku mungkin masih belajar berdamai dengan anxiety.
Masih ada hari ketika aku merasa kuat.
Ada juga hari ketika aku merasa sangat lelah.
Tapi sekarang aku tahu satu hal:
Aku bukan anxiety-ku.
Aku adalah seseorang yang sedang belajar memahami dirinya sendiri, merawat pikirannya, dan berjalan pelan-pelan menuju keadaan yang lebih tenang.
Tidak apa-apa kalau hari ini aku hanya mampu berjalan sedikit.
Yang penting, aku tetap memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Pelan-pelan saja. Aku sedang belajar sembuh, bukan belajar menjadi sempurna.
_EVA MUFLIKHA
Rabu, 23 September 2026
INGIN PUNYA CINTA SEJATI
Kisah cinta sejati bukan tentang dua manusia yang tidak pernah memiliki masalah.
Bukan pula tentang setiap hari yang selalu dipenuhi bunga, kata-kata manis, dan tawa.
Cinta sejati adalah tentang dua orang yang sama-sama tahu bahwa hubungan tidak selalu mudah, tetapi tetap memilih untuk saling menggenggam.
Ada hari ketika kami tertawa bersama.
Ada hari ketika kami berbeda pendapat.
Ada saatnya aku lelah, dia pun lelah.
Ada saatnya aku kecewa, dia juga mungkin merasa terluka.
Namun di antara semua itu, selalu ada satu hal yang kami pertahankan: keinginan untuk tetap bersama dan menyelesaikan semuanya.
Karena mencintai seseorang bukan hanya tentang menyukai kelebihannya.
Tetapi tentang belajar menerima kekurangannya, memahami diamnya, menghargai batasnya, dan tetap melihat kebaikan dalam dirinya bahkan ketika sedang marah.
Cinta sejati tidak membuat seseorang kehilangan dirinya.
Justru cinta yang sehat membuat dua manusia tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya, tanpa harus saling mengecilkan.
Aku tidak ingin kisah cinta yang hanya indah untuk diceritakan kepada orang lain.
Aku ingin kisah yang benar-benar indah ketika hanya kami berdua yang menjalaninya.
Tentang seseorang yang tetap menggenggam tanganku ketika hidup sedang tidak mudah.
Tentang seseorang yang ketika melihat air mataku, tidak pergi.
Tentang seseorang yang ketika ada masalah, memilih duduk bersamaku dan mencari jalan keluar, bukan mencari alasan untuk meninggalkan.
Dan mungkin, cinta sejati memang sesederhana itu.
Bukan tentang siapa yang paling romantis.
Bukan tentang siapa yang paling banyak memberi hadiah.
Bukan tentang seberapa sering mengatakan "aku mencintaimu."
Tetapi tentang siapa yang tetap menunjukkan cinta itu melalui sikap, kesetiaan, perhatian, tanggung jawab, dan keberadaan yang konsisten.
Sampai suatu hari, setelah melewati begitu banyak musim bersama, kami bisa saling memandang dan berkata dalam hati:
"Ternyata, semua perjuangan ini memang layak. Karena pada akhirnya, aku menemukan seseorang yang tidak hanya ingin mencintaiku hari ini, tetapi juga ingin menua bersamaku."
Itulah cinta yang ingin aku miliki.
Cinta yang tidak sempurna, tetapi nyata.
Cinta yang tidak selalu mudah, tetapi diperjuangkan.
Cinta yang tidak hanya membuat hati berdebar ketika pertama bertemu, tetapi membuat hati tetap merasa aman setelah bertahun-tahun bersama.
Karena cinta sejati bukan tentang menemukan seseorang yang tidak pernah membuat kita terluka.
Melainkan menemukan seseorang yang ketika terluka, tetap memilih untuk saling menyembuhkan, bukan saling meninggalkan.
Dan jika kelak aku memiliki kisah seperti itu, aku ingin menjaganya sebaik mungkin.
Sebab setelah melewati begitu banyak perjalanan hidup, aku tidak lagi mencari cinta yang sekadar membuatku bahagia.
Aku mencari cinta yang membuatku merasa pulang.
_Eva Muflikha
Jumat, 18 September 2026
MEMILIH SENDIRI
Aku tidak lagi mencari seseorang yang hanya pandai membuatku jatuh hati.
Aku ingin seseorang yang tahu bagaimana caranya tetap tinggal setelah rasa jatuh cinta itu mulai menjadi kehidupan nyata.
Ia harus datang dengan kesungguhan.
Dengan tanggung jawab.
Dengan konsistensi.
Dengan keberanian untuk memberikan kepastian.
Dengan kemampuan menghargai, bukan hanya pandai membuatku merasa dicintai.
Sebab membuat seseorang jatuh hati itu mudah.
Yang sulit adalah tetap memilih orang yang sama ketika keadaan tidak lagi menyenangkan. Ketika ada perbedaan pendapat. Ketika sedang marah. Ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja. Ketika hubungan membutuhkan kesabaran, komunikasi, pengorbanan, dan kedewasaan.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang hanya hadir ketika semuanya indah.
Aku membutuhkan seseorang yang ketika masalah datang, tidak menjadikan pergi sebagai pilihan pertama. Seseorang yang mampu duduk bersama, membicarakan masalah, mencari jalan keluar, dan tetap menjaga harga diri satu sama lain.
Aku sudah tidak tertarik pada cinta yang hanya besar di awal, tetapi perlahan mengecil ketika hubungan mulai membutuhkan perjuangan.
Aku ingin cinta yang tenang, jelas, dan konsisten.
Dan jika ternyata seseorang seperti itu tidak pernah datang?
Tidak apa-apa.
Aku tidak takut lagi menjalani hidup sendiri.
Aku sudah sampai pada titik di mana kesendirian tidak lagi terasa seperti hukuman. Justru terkadang, sendiri membuatku bisa bernapas lebih lega. Tidak perlu menunggu kabar yang tidak pasti. Tidak perlu menebak-nebak perasaan seseorang. Tidak perlu mempertanyakan apakah aku cukup dicintai atau hanya sedang dipertahankan karena kebiasaan.
Aku sudah belajar bahwa lebih baik tidur dengan hati yang tenang daripada terbangun setiap hari di samping seseorang yang membuat hati merasa sendirian.
Aku tidak sedang bersumpah bahwa cinta tidak akan pernah datang lagi.
Aku hanya sedang membuat sebuah janji kepada diriku sendiri:
Jika cinta datang,
biarlah ia datang membawa ketenangan, bukan kecemasan.
Jika seseorang tinggal,
biarlah ia tinggal dengan kepastian, bukan sekadar janji.
Jika seseorang mencintaiku,
biarlah cintanya membuatku merasa aman menjadi diriku sendiri, bukan memaksaku kehilangan diri demi mempertahankan hubungan.
Aku tidak ingin lagi mencintai dengan cara yang membuatku terus-menerus mengorbankan ketenanganku.
Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri meskipun sedang mencintai seseorang.
Dan jika semua yang kuharapkan itu tidak pernah datang?
Aku tetap akan baik-baik saja.
Aku akan tetap menjalani hidup.
Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap tertawa.
Tetap membangun mimpi-mimpiku.
Tetap menikmati hari-hari sederhana yang Tuhan berikan.
Karena pada akhirnya, aku tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkan hidupku.
Aku hanya membutuhkan diriku sendiri untuk terus menjalaninya dengan penuh kesadaran, harga diri, dan rasa syukur.
Kalau suatu hari ada seseorang datang dan mampu berjalan bersamaku dengan cara yang baik, aku akan menghargai kehadirannya.
Tetapi jika tidak ada?
Aku tidak akan memaksa takdir.
Sebab sekarang aku tahu, hidup yang utuh tidak selalu harus diisi oleh pasangan.
Kadang, bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan kepada diri sendiri adalah berani berkata:
“Aku lebih baik sendiri daripada bersama seseorang yang membuatku kehilangan ketenangan, harga diri, dan diriku sendiri.”
Dan jika pada akhirnya aku harus menua seorang diri, semoga aku tetap bisa tersenyum dan berkata:
Aku pernah berharap pada cinta, tetapi aku tidak pernah kehilangan diriku hanya karena cinta.
_Eva Muflikha
Rabu, 16 September 2026
TIDAK MUDAH MENDAPATKAN VERSI DIRIKU
Tidak semua orang akan mendapatkan versiku yang seperti ini.
Versi yang kebucinan, yang bisa tiba-tiba tersenyum hanya karena mendapat pesan darimu. Versi yang rela meluangkan waktu, memikirkan hal-hal kecil, mengingat detail yang bahkan mungkin tidak kamu sadari.
Tidak semua orang akan mengenal versiku yang manja.
Yang ingin diperhatikan, ingin dipeluk, ingin didengar, ingin sesekali diperlakukan seperti anak kecil yang tidak perlu selalu kuat.
Tidak semua orang akan melihat versiku yang suka bercerita.
Tentang bagaimana hariku berjalan, apa yang membuatku senang, apa yang membuatku kesal, hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi ingin kuceritakan karena aku merasa nyaman membaginya denganmu.
Sebab, aku tidak seperti itu kepada semua orang.
Aku bisa terlihat mandiri, tenang, bahkan seolah tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku bisa menyelesaikan banyak hal sendiri dan terbiasa menyimpan cerita di dalam kepala tanpa harus menceritakannya kepada orang lain.
Tetapi ketika aku merasa aman kepada seseorang, sisi lain dari diriku perlahan keluar.
Aku bisa menjadi perempuan yang sangat manja.
Sangat perhatian.
Sangat cerewet.
Sangat ingin dekat.
Bahkan terkadang terlalu banyak bercerita hanya karena aku merasa, “Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang tahu.”
Jadi, jika suatu hari kamu melihatku begitu berbeda dengan orang lain, jangan mengira aku berubah menjadi perempuan yang lain.
Itulah aku yang sebenarnya ketika aku merasa dicintai, diterima, dan tidak perlu berpura-pura kuat.
Karena bagiku, menjadi manja bukan berarti aku lemah.
Menjadi bucin bukan berarti aku kehilangan harga diri.
Dan banyak bercerita bukan berarti aku tidak punya kehidupan sendiri.
Itu adalah bentuk kepercayaan.
Aku hanya sedang memberikan bagian diriku yang tidak semua orang boleh miliki.
Dan kalau kamu mendapatkan versi itu dariku, semoga kamu mengerti satu hal:
kamu bukan sekadar seseorang yang aku cintai.
Kamu adalah seseorang yang membuatku merasa cukup aman untuk menurunkan semua pertahananku.
Sebab tidak semua orang mendapatkan perempuan yang sama.
Ada orang yang hanya mengenal kuatnya aku.
Ada yang hanya mengenal diamku.
Ada yang hanya mengenal mandirinya aku.
Tetapi hanya orang tertentu yang akan mengenal aku yang paling lembut—
yang manja, yang cerewet, yang suka bercerita, yang ingin ditemani, yang mudah rindu, dan yang diam-diam hanya ingin dicintai dengan sederhana.
Versiku yang paling lembut bukan untuk semua orang.
Ia hanya muncul di tempat yang membuat hatiku merasa pulang. ❤️
_Eva Muflikha
Selasa, 15 September 2026
LIMA BAHASA CINTA YANG HARUS DI PAHAMI
BAHASA CINTAKU QUALITY TIME
Kalau ada yang bertanya apa bahasa cintaku, jawabanku sederhana:
Quality time.
Aku tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal.
Aku tidak harus dibawa ke tempat yang mewah.
Aku juga tidak membutuhkan hadiah setiap saat.
Yang paling aku butuhkan adalah waktu dan kehadiranmu.
Aku ingin duduk bersamamu dan bisa bercerita tentang banyak hal, bahkan tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Aku ingin menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan ceritamu.
Ingin berjalan bersamamu tanpa harus selalu punya tujuan.
Ingin makan sederhana, tertawa karena hal-hal receh, membicarakan masa depan, atau bahkan hanya duduk berdua dalam diam tanpa merasa canggung.
Karena bagiku, hadir itu adalah bentuk cinta.
Aku mungkin bisa memahami ketika kamu sibuk. Aku tahu setiap orang punya pekerjaan, tanggung jawab, dan kehidupan masing-masing.
Tetapi sesibuk apa pun, aku tetap ingin memiliki sedikit ruang di hidupmu yang memang sengaja kamu sisihkan untuk kita.
Bukan karena aku ingin menguasai waktumu.
Tetapi karena ketika seseorang yang aku cintai meluangkan waktunya untukku, aku merasa sedang diberi sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang:
perhatian yang utuh.
Aku tidak ingin hanya mendapatkan sisa waktu setelah semua urusanmu selesai.
Aku ingin sesekali menjadi seseorang yang memang kamu prioritaskan waktunya.
Ketika kita bersama, aku ingin kamu benar-benar ada.
Bukan tubuhmu di sampingku, tetapi pikiranmu masih berada di tempat lain.
Aku ingin percakapan yang tidak terburu-buru.
Tatapan yang tidak sibuk mencari layar.
Pelukan yang tidak sekadar formalitas.
Tawa yang lahir karena kita menikmati keberadaan satu sama lain.
Sebab bagiku, quality time bukan tentang berapa jam kita bersama.
Tetapi tentang seberapa hadir kita ketika sedang bersama.
Mungkin bagi orang lain, pergi makan malam adalah hal biasa.
Tetapi bagiku, makan malam bersama orang yang kucintai, mendengarkan ceritanya, melihat senyumnya, dan pulang dengan hati yang tenang bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.
Aku adalah perempuan yang akan mengingat momen-momen sederhana.
Aku akan mengingat percakapan kecil.
Aku akan mengingat tempat-tempat yang pernah kita datangi.
Aku akan mengingat bagaimana kamu menggenggam tanganku.
Aku akan mengingat bagaimana kita tertawa bersama.
Bahkan mungkin aku akan mengingat satu sore sederhana yang bagi orang lain tidak berarti apa-apa, tetapi bagiku begitu berharga karena saat itu kamu benar-benar ada untukku.
Jadi, jika aku terkadang meminta waktumu, bukan berarti aku tidak memahami kesibukanmu.
Aku hanya sedang mengatakan:
“Aku merindukan kita.”
Aku ingin tetap punya ruang untuk mengenalmu, meskipun hubungan kita sudah berjalan lama.
Karena aku percaya, pasangan bukan hanya seseorang yang kita cintai.
Ia juga seseorang yang perlu terus kita kenal, kita dengarkan, kita temani, dan kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan mungkin itulah cara paling sederhana untuk mencintaiku:
Luangkan waktumu untukku. Hadirlah sepenuhnya. Duduklah bersamaku. Dengarkan ceritaku. Biarkan aku menjadi bagian dari harimu.
Sebab bagiku...
waktu yang kamu pilih untuk diberikan kepadaku adalah salah satu bentuk cinta paling indah yang bisa kamu berikan. ❤️
_Eva Muflikha
CINTA YANG SUNGGUH BUKAN SEKEDAR SINGGAH
aku masih tidak menyangka bahwa seseorang yang dulu pertama kali kutemui, yang awalnya bahkan tidak pernah kubayangkan akan menjadi bagian sebesar ini dalam hidupku, ternyata bisa mencintaiku sedalam dan sehebat ini.
Dari awal kita bertemu, dari setiap percakapan pertama, dari perhatian-perhatian kecil yang mungkin saat itu belum kusadari artinya, perlahan kamu menunjukkan kepadaku bahwa kedatanganmu bukan sekadar singgah.
Waktu berjalan, dan aku melihat sendiri bagaimana seseorang yang dulu hanya kukenal sebagai “kamu”, akhirnya menjadi seseorang yang begitu besar perannya dalam hidupku.
Yang paling membuatku tersentuh bukan hanya karena kamu mencintaiku.
Tetapi karena sejak awal sampai hari ini, caramu mencintaiku selalu terasa sungguh-sungguh.
Cintamu tidak datang sebentar lalu perlahan menghilang.
Tidak hanya besar di awal lalu menjadi biasa ketika hubungan sudah berjalan lama.
Justru semakin lama aku mengenalmu, semakin banyak hal yang membuatku sadar:
“Ternyata sebesar ini ya, seseorang bisa mencintai aku.”
Kamu tidak mencintaiku setengah-setengah.
Ketika ingin bersamaku, kamu memperjuangkannya.
Ketika ada jarak, kamu mencari cara untuk mendekat.
Ketika ada kesulitan, kamu tidak buru-buru menyerah.
Ketika keadaan tidak mudah, kamu tetap mencari jalan.
Bahkan dalam hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah aku minta, selalu ada effort yang membuatku merasa bahwa keberadaanku benar-benar berarti bagimu.
Kamu bukan hanya mengatakan ingin menjagaku.
Kamu berusaha menjadi seseorang yang bisa kuandalkan.
Bukan hanya mengatakan akan ada untukku.
Kamu menunjukkan kehadiran itu dalam banyak keadaan.
Bukan hanya mengatakan aku penting.
Kamu memperlakukanku seolah aku memang penting.
Dan dari sana aku belajar bahwa cinta yang besar bukan selalu tentang kata-kata yang indah, tetapi tentang pengorbanan yang nyata.
Tentang waktu yang diberikan.
Tentang tenaga yang dikeluarkan.
Tentang hal-hal yang rela dilakukan.
Tentang keputusan-keputusan yang tidak selalu mudah, tetapi tetap dipilih demi mempertahankan apa yang kita punya.
Aku melihat bagaimana kamu berusaha memberikan yang terbaik, bukan karena aku menuntutnya, tetapi karena memang begitu caramu mencintai.
Tidak ada kesan setengah hati.
Kalau kamu membantu, kamu sungguh-sungguh membantu.
Kalau kamu memperjuangkan, kamu benar-benar memperjuangkan.
Kalau kamu memberikan perhatian, kamu hadir sepenuhnya.
Dan mungkin itulah yang membuat hatiku begitu tersentuh.
Karena setelah sekian banyak perjalanan hidup, aku akhirnya mengerti bahwa dicintai itu bukan hanya tentang memiliki seseorang di samping kita.
Dicintai adalah ketika seseorang membuat kita merasa bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Ada seseorang yang bersedia berdiri di samping kita ketika hidup sedang berat.
Ada seseorang yang ikut memikirkan jalan keluar ketika kita sedang bingung.
Ada seseorang yang bersedia berkorban tanpa selalu menghitung apa yang sudah ia berikan.
Dan aku tidak ingin menutup mata terhadap semua itu.
Aku tahu cinta tidak akan selalu sempurna.
Kita tetap dua manusia yang punya kekurangan, emosi, dan perbedaan.
Tetapi di balik semua itu, aku bisa melihat satu hal yang sangat jelas:
kamu tidak pernah mencintaiku dengan main-main.
Dari awal kita bertemu sampai hari ini, ada begitu banyak hal yang sudah kamu perjuangkan. Ada begitu banyak effort yang mungkin tidak semuanya mampu kuucapkan satu per satu.
Dan untuk semua itu, aku hanya ingin mengatakan:
Terima kasih karena sudah mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
Terima kasih karena tidak hanya hadir ketika semuanya mudah.
Terima kasih karena tetap berusaha ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Terima kasih karena membuatku merasakan bahwa menjadi seseorang yang dicintai dengan sepenuh hati adalah sebuah anugerah.
Aku bangga bukan karena memiliki pasangan yang sempurna.
Aku bangga karena memiliki seseorang yang ketika memilih untuk mencintaiku, ia benar-benar memperjuangkan pilihannya.
Dan jika ada yang bertanya kepadaku seperti apa rasanya dicintai olehmu, mungkin aku tidak akan mampu menjelaskannya dengan banyak kata.
Aku hanya akan berkata:
“Rasanya seperti akhirnya menemukan seseorang yang tidak datang dengan cinta setengah hati. Ia datang dengan seluruh keberaniannya, seluruh usahanya, dan kesungguhannya untuk tetap tinggal serta memperjuangkan kami.”
Semoga apa yang sudah kita perjuangkan tidak berhenti sebagai cerita indah tentang bagaimana kita pernah saling mencintai.
Semoga menjadi perjalanan panjang tentang dua orang yang, sejak awal bertemu hingga nanti, sama-sama memilih untuk tetap memperjuangkan satu sama lain. ❤️
_Eva Muflikha
DICINTAI DENGAN KONSISTEN
Dicintai dengan begitu hebatnya bukan berarti selalu diberikan hal-hal mewah. Bukan pula tentang seberapa besar sesuatu yang diberikan. Tetapi tentang bagaimana seseorang hadir dengan konsisten, menjaga perasaan, menepati ucapan, dan membuat kita merasa aman tanpa harus terus-menerus meminta.
Aku bangga ketika memiliki pasangan yang konsisten.
Hari ini mencintaiku, besok masih sama.
Bukan hanya manis ketika sedang bahagia, tetapi tetap lembut ketika sedang menghadapi masalah.
Aku bangga dicintai oleh seseorang yang provide—bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga menyediakan waktu, perhatian, perlindungan, tenaga, solusi, dan kepastian. Seseorang yang ketika melihatku lelah, tidak bertanya, “Kamu butuh apa?” lalu menghilang, tetapi berusaha hadir dan berkata, “Sini, biar aku bantu.”
Karena pada akhirnya, perempuan tidak hanya ingin mendengar bahwa dirinya dicintai.
Ia ingin merasakan bahwa dirinya dipilih, dijaga, dihargai, dan diperjuangkan.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika tidak perlu mengejar perhatian. Tidak perlu meminta kepastian. Tidak perlu mengemis waktu. Tidak perlu bertanya-tanya, “Sebenarnya aku ini penting tidak baginya?”
Sebab orang yang benar-benar mencintai akan membuat kita tahu jawabannya melalui sikap.
Dan mungkin, inilah salah satu bentuk cinta yang paling menenangkan:
dicintai oleh seseorang yang tidak membuat kita sibuk mempertanyakan cintanya.
Ia hadir.
Ia konsisten.
Ia bertanggung jawab.
Ia memberikan tanpa membuat kita merasa berutang.
Ia melindungi tanpa mengekang.
Ia memimpin tanpa merendahkan.
Dan ketika ada masalah, ia memilih memperbaiki, bukan meninggalkan.
Aku tidak ingin hanya menjadi perempuan yang dicintai ketika semuanya mudah.
Aku ingin menjadi perempuan yang tetap diperlakukan dengan baik ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.
Karena cinta yang hebat bukan tentang seberapa keras seseorang mengatakan “aku mencintaimu”.
Tetapi tentang seberapa konsisten ia membuatmu merasa:
“Aku aman bersamamu. Aku dihargai olehmu. Dan aku tidak sendirian dalam menjalani hidup ini.”
Dan jika suatu hari aku mendapatkan cinta seperti itu, aku tidak akan malu mengakuinya.
Aku akan bangga.
Karena ternyata, setelah begitu banyak perjalanan dan luka, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang tidak hanya datang untuk mencintaiku—
tetapi datang untuk benar-benar hadir dalam hidupku.
_Eva Muflikha
Senin, 14 September 2026
DIARY DEPRESIKU
Diary Depresiku: Ketika Aku Harus Memilih Melupakan
Malam ini aku kembali menulis tentang seseorang yang sebenarnya ingin sekali kuhapus dari pikiranku.
Bukan karena aku sudah tidak sayang.
Justru karena aku masih terlalu sayang, sampai-sampai setiap kali mencoba melupakan, hatiku kembali mencari alasan untuk mengingat.
Aku lelah.
Lelah berpura-pura baik-baik saja.
Lelah membuka ponsel dan berharap ada namamu di sana.
Lelah menunggu sesuatu yang mungkin memang tidak akan pernah datang.
Dan yang paling melelahkan adalah berperang dengan pikiranku sendiri—antara ingin bertahan atau belajar melepaskan.
Ada bagian dari diriku yang masih ingin percaya bahwa suatu hari semuanya akan menjadi seperti yang kuharapkan. Tapi ada bagian lain yang semakin sadar bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.
Mungkin inilah bentuk kehilangan yang paling menyakitkan:
ketika seseorang masih hidup, masih bisa ditemui, masih bisa berbicara dengan kita, tetapi kita harus belajar menjalani hari seolah-olah dia tidak lagi menjadi bagian dari hidup kita.
Aku harus memilih melupakan.
Bukan karena kenangan itu tidak berarti.
Bukan karena perasaanku tiba-tiba hilang.
Tetapi karena aku mulai mengerti bahwa terus menggenggam sesuatu yang tidak pasti hanya akan membuatku kehilangan diriku sendiri.
Malam-malam menjadi panjang.
Aku menangis diam-diam.
Terkadang aku merindukanmu tanpa alasan.
Terkadang aku ingin menghubungimu, lalu mengurungkan niat karena aku tahu, mungkin aku hanya akan kembali terluka.
Aku bahkan harus belajar membiasakan diri dengan sepi yang sebelumnya tidak pernah kupilih.
Hari ini aku sedang belajar mengikhlaskan seseorang yang masih ada di dalam hati.
Aku tahu melupakan tidak bisa dilakukan dalam satu malam.
Mungkin besok aku masih akan mengingatmu.
Lusa mungkin aku masih merindukanmu.
Dan mungkin suatu hari nanti namamu masih akan muncul di kepalaku tanpa sengaja.
Tidak apa-apa.
Aku tidak harus membenci untuk bisa melepaskan.
Aku tidak harus menghapus semua kenangan untuk bisa melanjutkan hidup.
Aku hanya perlu berhenti berharap pada sesuatu yang tidak memberiku kepastian.
Jika suatu hari aku benar-benar berhasil melupakanmu, semoga aku tidak mengingatmu sebagai seseorang yang pernah menghancurkanku.
Aku ingin mengingatmu sebagai seseorang yang pernah hadir, pernah membuatku bahagia, pernah mengajarkanku tentang cinta—dan akhirnya mengajarkanku bahwa mencintai diri sendiri terkadang berarti berani pergi.
Malam ini aku menangis lagi.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak menangis agar kamu kembali.
Aku menangis karena sedang belajar menerima kenyataan bahwa mungkin kamu memang harus kulepaskan.
Dan jika besok aku masih merindukanmu, aku akan mengingatkan diriku sendiri:
“Aku boleh merindukanmu, tetapi aku tidak harus kembali kepadamu.”
Karena kali ini, aku ingin memilih diriku sendiri.
Pelan-pelan.
Sampai suatu hari nanti, namamu tidak lagi membuat dadaku sesak.
Sampai kenangan tentangmu hanya menjadi halaman lama dalam diary hidupku—yang pernah kubaca dengan air mata, tetapi tidak lagi membuatku ingin kembali.
MEMILIH MUNDUR
CARA MEMBAHAGIAKAN DIRI SENDIRI
Minggu, 13 September 2026
PERNAH MENJADI KADER POSYANDU DESA
Pernah Ada Masa di Mana Aku Begitu Dekat dengan Desa Tengki.
Dulu, aku bukan hanya tinggal di Desa Tengki.
Aku menjadi bagian dari kehidupan di dalamnya.
Aku pernah menjadi kader di desa, mengabdikan diri sebagai kader Posyandu, ikut mendampingi kegiatan masyarakat, dan hadir dalam berbagai kegiatan yang ada di desa.
Bagiku, menjadi kader bukan sekadar menjalankan tugas.
Ada banyak pelajaran yang aku dapat dari sana.
Aku belajar bersosialisasi dengan banyak orang, belajar berkomunikasi, belajar memahami karakter masyarakat yang berbeda-beda, dan belajar bahwa mengabdi tidak selalu harus dengan sesuatu yang besar.
Kadang, pengabdian itu sesederhana datang ketika dibutuhkan.
Membantu ketika ada kegiatan.
Melayani masyarakat dengan ikhlas.
Menyapa tetangga.
Ikut gotong royong.
Dan hadir dalam suka maupun duka kehidupan masyarakat.
Dulu, hampir setiap ada kegiatan di desa, aku berusaha ikut ambil bagian.
Bukan karena ingin dipuji.
Bukan pula karena ingin dikenal.
Aku hanya merasa bahwa ketika kita hidup di sebuah lingkungan, sudah seharusnya kita tidak hanya menjadi penonton. Kita bisa ikut berbuat sesuatu, sekecil apa pun itu, untuk lingkungan tempat kita tinggal.
Dari Desa Tengki, aku belajar banyak tentang kehidupan.
Tentang kebersamaan.
Tentang gotong royong.
Tentang menghargai orang lain.
Tentang bagaimana sebuah desa bisa menjadi kuat ketika masyarakatnya mau saling membantu.
Kini mungkin kehidupan membawaku ke perjalanan yang berbeda. Banyak hal berubah, banyak peran yang harus kujalani, dan banyak pengalaman baru yang membuatku semakin dewasa.
Tetapi satu hal yang tidak akan pernah hilang adalah rasa bangga pernah menjadi bagian dari masyarakat Desa Tengki.
Karena ada masa ketika aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang bisa kita dapatkan, tetapi juga tentang apa yang pernah kita berikan.
Dan jika suatu hari aku menoleh ke belakang, aku ingin tersenyum dan berkata kepada diriku sendiri:
“Pernah ada aku yang dulu muda, yang mau turun tangan, bersosialisasi, membantu, dan mengabdi untuk desa. Mungkin sederhana, tetapi itu adalah bagian indah dari perjalanan hidupku.”
_Eva Muflikha
DISEKOLAH AKU GURU DI RUMAH AKU TETAP BUNDA
BELAJAR UNTUK MENCINTAI DIRI SENDIRI (Self Love)
JANGAN CEPAT PERCAYA PADA UCAPAN LAKI-LAKI
Jangan terlalu memuji laki-laki hanya karena hari ini dia terlihat begitu mencintaimu.
Katanya cintanya tulus.
Katanya tidak akan meninggalkanmu.
Katanya kamu adalah perempuan yang ingin dia perjuangkan sampai akhir.
Dengarkan saja, tetapi jangan terlalu cepat percaya, apalagi menjadikannya pusat duniamu.
Karena semua orang bisa berkata manis ketika sedang jatuh cinta. Semua orang bisa terlihat begitu perhatian ketika hubungan sedang baik-baik saja. Tetapi waktu akan menunjukkan siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya pandai memainkan perasaan.
Jadi, biasa saja.
Tidak perlu terlalu mengagungkan laki-laki hanya karena dia memberikan perhatian. Tidak perlu memujinya berlebihan hanya karena dia berkata, “Aku berbeda dari yang lain.” Biarkan waktu yang membuktikan.
Sebab cinta yang benar-benar tulus tidak membutuhkan terlalu banyak pujian.
Ia akan terlihat dari konsistensi.
Dari tanggung jawab.
Dari caranya menghargaimu ketika sedang marah.
Dari caranya tetap menghormati kamu ketika keadaan tidak sesuai keinginannya.
Dan kalau suatu hari dia pergi?
Jangan sampai hidupmu ikut runtuh hanya karena kehilangan seorang laki-laki.
Kamu tetap harus punya dirimu sendiri.
Tetaplah bekerja, belajar, bertumbuh, merawat dirimu, mengejar cita-citamu, menjaga harga dirimu, dan membangun kehidupan yang membuatmu bahagia—dengan atau tanpa pasangan.
Jangan terlalu sibuk memikirkan, “Dia sayang aku atau tidak?”
Jangan setiap saat menunggu pesan.
Jangan mengukur harga dirimu dari seberapa sering dia mencari.
Karena semakin kamu sibuk mencintai dirimu sendiri, semakin sedikit waktumu untuk mengejar kepastian dari orang lain.
Kalau dia benar-benar mencintaimu, biarkan dia membuktikannya.
Kalau dia serius, biarkan tindakannya yang berbicara.
Kalau dia pergi, biarkan dia pergi tanpa membawa seluruh kebahagiaanmu.
Perempuan yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri tidak akan terlalu sibuk mengejar laki-laki.
Ia cukup berkata:
“Aku senang dicintai, tetapi aku tidak akan kehilangan diriku hanya karena ingin dicintai.”
Karena pada akhirnya, laki-laki hanyalah bagian dari perjalanan hidup.
Dirimu sendiri adalah rumah yang harus kamu jaga seumur hidup.
_Eva Muflikha
Menunggu notifikasi pesan
CINTA DAN HARAPAN
Cinta dan Harapan Seorang Bunda
Aku adalah seorang perempuan yang berjalan sendiri, bukan karena aku tidak ingin dicintai, tetapi karena aku sudah belajar bahwa cinta bukan sekadar tentang memiliki seseorang di sisi.
Ada dua anak perempuan yang membuatku harus berpikir lebih jauh sebelum membuka kembali pintu hati. Dua gadis kecil yang menjadi alasan mengapa aku harus tetap kuat, tetap bekerja, tetap bangun setiap pagi meski terkadang hati sedang lelah.
Aku boleh jatuh cinta, tetapi aku tidak boleh sembarangan memilih.
Sebab ketika seorang laki-laki datang kepadaku, ia bukan hanya sedang mendekati seorang perempuan. Ada dua hati kecil yang juga akan mengenalnya. Ada masa depan dua anak yang harus kupikirkan. Ada kehidupan yang tidak boleh dipertaruhkan hanya karena aku sedang membutuhkan tempat untuk bersandar.
Aku masih percaya pada cinta.
Aku masih berharap suatu hari nanti ada seseorang yang datang bukan untuk menyelamatkanku karena menganggapku lemah, tetapi untuk berjalan bersamaku karena menghargai kekuatanku.
Seseorang yang tidak melihat statusku sebagai kekurangan. Tidak melihat dua anakku sebagai beban. Tidak merasa keberadaan mereka akan mengurangi kebahagiaannya.
Aku ingin dicintai dengan cara yang sederhana: dihargai, didengarkan, dijaga perasaannya, dan diperlakukan dengan baik bahkan ketika sedang marah.
Aku tidak mencari laki-laki yang sempurna. Aku hanya berharap menemukan seseorang yang dewasa dalam mencintai. Seseorang yang ketika ada masalah memilih berbicara, bukan menghilang. Ketika marah tetap menjaga sikap. Ketika kecewa tidak menyakiti. Dan ketika kehidupan tidak mudah, ia tidak pergi meninggalkan kami.
Karena aku sudah tidak mencari cinta yang hanya indah di awal.
Aku mencari cinta yang sanggup bertahan ketika kehidupan mulai menunjukkan sisi sulitnya.
Jika suatu hari seseorang benar-benar datang, aku berharap ia memahami bahwa aku bukan perempuan yang datang dengan tangan kosong. Aku membawa dua putri, membawa masa lalu, membawa luka, membawa tanggung jawab, sekaligus membawa begitu banyak cinta yang ingin kuberikan kepada orang yang tepat.
Dan jika ternyata cinta itu belum datang, aku tidak ingin terburu-buru.
Aku akan tetap membesarkan kedua putriku dengan segenap kemampuanku. Mengajarkan mereka bahwa perempuan boleh kuat, boleh bermimpi, boleh mencintai, tetapi jangan pernah kehilangan harga diri hanya demi dipilih seseorang.
Aku ingin mereka tumbuh melihat bundanya bukan sebagai perempuan yang gagal dalam cinta, tetapi sebagai perempuan yang pernah terluka dan memilih bangkit.
Kelak, jika Allah mengirimkan seseorang untukku, semoga ia bukan sekadar menjadi pasangan hidupku.
Semoga ia menjadi rumah yang aman bagi kami.
Seseorang yang tidak hanya berkata, “Aku mencintaimu,” tetapi mampu membuktikannya melalui kesetiaan, tanggung jawab, dan sikapnya setiap hari.
Sebab sekarang aku tidak hanya menjaga hatiku sendiri.
Aku sedang menjaga masa depan dua anak perempuan yang sangat kucintai yaitu Ayunda dan Anggun
Dan untuk mereka, aku rela menunggu cinta yang benar-benar layak diperjuangkan. ❤️
_Eva Muflikha
Senin, 07 September 2026
ALASAN MENGAPA PRIA MATI-MATIAN MENGEJAR SATU WANITA
Sabtu, 05 September 2026
TENTANG BUNDA,AYUNDA DAN ANGGUN
BUNDA, AYUNDA, DAN ANGGUN
Perjuangan yang Tidak Selalu Terlihat
Ada seorang bunda yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Bukan perjuangan yang indah seperti yang sering terlihat di media sosial.
Bukan tentang foto tersenyum dengan tulisan “strong woman” di bawahnya.
Perjuangannya jauh lebih nyata dari itu.
Tentang bagaimana membayar kebutuhan hidup ketika pemasukan tidak selalu cukup.
Tentang tagihan yang tetap datang meskipun hati sedang ingin beristirahat.
Tentang memikirkan kebutuhan anak ketika dirinya sendiri sebenarnya sedang membutuhkan banyak hal.
Tentang harus tetap terlihat tenang ketika di dalam kepala ada begitu banyak yang sedang dipikirkan.
Namanya Bunda Eva.
Dan ada dua alasan yang membuatnya tidak boleh menyerah:
Ayunda dan Anggun.
Dua putrinya.
Dua anak yang mungkin tidak pernah benar-benar tahu seberapa keras Bundanya berusaha menjaga kehidupan mereka tetap berjalan.
Ada hari ketika Bunda Eva harus menghitung uang berkali-kali.
Mana yang harus dibayar lebih dulu.
Mana yang bisa ditunda.
Mana yang harus dibeli.
Mana yang harus dikesampingkan.
Kadang bukan karena tidak mau memberikan.
Tetapi karena memang harus memilih.
Dan menjadi seorang ibu adalah belajar membuat pilihan-pilihan sulit tanpa memperlihatkan kepada anak bahwa sebenarnya hati sedang penuh dengan kekhawatiran.
Ada kebutuhan sekolah.
Ada kebutuhan rumah.
Ada kebutuhan sehari-hari.
Ada persoalan masa lalu yang belum semuanya selesai.
Ada tanggung jawab yang terkadang datang bersamaan.
Sementara Bunda Eva hanya memiliki dua tangan.
Dan dua tangan itu harus cukup untuk memeluk anak-anaknya sekaligus membereskan kehidupannya sendiri.
Pernah ada saat ketika ia merasa,
“Kenapa semuanya harus saya hadapi sendiri?”
Pertanyaan itu mungkin pernah muncul.
Bahkan lebih dari sekali.
Tetapi setelah itu ia kembali diam.
Karena ia tahu, menangis boleh.
Mengeluh sesekali boleh.
Tetapi kehidupan tidak akan berhenti hanya karena dirinya sedang lelah.
Besok tetap pagi.
Kebutuhan tetap harus dipenuhi.
Ayunda dan Anggun tetap membutuhkan seorang bunda yang hadir.
Maka ia bangun lagi.
Berusaha lagi.
Bekerja lagi.
Mengurus lagi.
Dan menjalani lagi.
Begitulah perjuangan yang sering tidak terlihat.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang yang tahu berapa kali seorang ibu harus menguatkan dirinya sendiri dalam satu hari.
Bunda Eva juga pernah takut.
Takut tidak mampu.
Takut masa depan tidak sesuai harapan.
Takut mengambil keputusan yang salah.
Takut jika suatu hari dirinya sakit, siapa yang akan mengurus kedua putrinya?
Ketakutan-ketakutan itu terkadang datang diam-diam.
Terutama ketika malam sudah sepi.
Ketika Ayunda dan Anggun sudah tidur.
Saat tidak ada lagi yang harus ia layani.
Saat itulah seorang bunda berhadapan dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin di situlah air mata paling sering jatuh.
Bukan karena ia tidak bersyukur.
Tetapi karena menjadi kuat terlalu lama juga melelahkan.
Namun, pagi selalu datang.
Dan Bunda Eva kembali menjadi Bunda Eva yang dikenal kedua putrinya.
Tersenyum.
Berbicara.
Mengurus rumah.
Mencari jalan keluar.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal semalam ia mungkin baru saja menangis.
Begitulah seorang ibu.
Sering kali ia menyembunyikan lelahnya bukan karena tidak membutuhkan pertolongan, tetapi karena terlalu terbiasa menjadi orang yang harus menyelesaikan semuanya.
Dan Bunda Eva sedang belajar untuk tidak malu mengatakan:
“Saya juga lelah.”
Karena ternyata, menjadi kuat bukan berarti harus memikul semuanya seorang diri.
Menjadi kuat juga berarti berani mengakui bahwa dirinya manusia.
Bisa takut.
Bisa sedih.
Bisa kecewa.
Bisa kehilangan arah.
Tetapi tetap memilih untuk bangkit.
Ada satu hal yang paling Bunda Eva takutkan:
Bukan hidup susah.
Bukan hidup sendirian.
Bukan memulai kembali dari nol.
Tetapi jika perjuangannya membuat Ayunda dan Anggun merasa bahwa mereka tidak memiliki kehidupan yang layak.
Karena itu, ia terus berusaha.
Bukan untuk terlihat hebat.
Bukan untuk membuktikan kepada siapa pun bahwa ia mampu.
Tetapi karena ia ingin kedua putrinya tumbuh dengan keyakinan bahwa kehidupan memang tidak selalu mudah, tetapi selalu ada jalan untuk diperjuangkan.
Ia ingin Ayunda dan Anggun belajar bahwa perempuan tidak harus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkannya.
Perempuan boleh dicintai.
Boleh memiliki pasangan.
Boleh bersandar.
Tetapi harus tetap memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kakinya sendiri.
Karena Bunda Eva pernah belajar dari kehidupan:
Jangan menggantungkan seluruh masa depan kepada manusia.
Manusia bisa berubah.
Keadaan bisa berubah.
Janji bisa berubah.
Tetapi seorang ibu harus tetap mampu menata hidupnya ketika semuanya berubah.
Bunda Eva mungkin masih memiliki banyak kekurangan.
Ia belum sempurna.
Ia masih belajar mengelola emosi.
Masih belajar berbicara dengan lebih baik.
Masih belajar mengatur kehidupan.
Masih belajar menjadi ibu yang lebih baik.
Tetapi satu hal yang tidak pernah berhenti ia lakukan:
berusaha.
Untuk Ayunda.
Untuk Anggun.
Untuk dirinya sendiri.
Dan untuk kehidupan yang ingin ia bangun kembali.
Kelak, ketika Ayunda dan Anggun sudah dewasa, mungkin mereka akan melihat kembali perjalanan Bundanya.
Mungkin baru saat itu mereka mengerti bahwa senyum Bunda mereka ternyata menyimpan begitu banyak cerita.
Bahwa ada tagihan yang pernah membuatnya berpikir keras.
Ada malam-malam penuh kekhawatiran.
Ada keputusan sulit yang harus dibuat sendirian.
Ada hari ketika Bunda mereka ingin menyerah, tetapi memilih bangun karena mereka.
Dan mungkin suatu hari mereka akan berkata:
"Bunda ternyata sekuat itu, ya..."
Tidak.
Bunda Eva tidak selalu kuat.
Bunda Eva hanya tidak punya pilihan untuk menyerah selamanya.
Karena ada dua anak yang membuatnya ingin terus melihat hari esok.
Ayunda dan Anggun.
Dua putri yang mungkin tidak tahu bahwa dalam banyak keadaan, merekalah yang membuat Bundanya tetap berdiri.
Maka jika suatu hari nanti Ayunda dan Anggun membaca tulisan ini, Bunda ingin kalian tahu:
Bunda tidak berjuang karena kalian adalah beban.
Justru sebaliknya.
Kalian adalah alasan mengapa setiap beban terasa layak untuk diperjuangkan.
Bunda tidak tahu akan seperti apa masa depan.
Bunda tidak tahu apakah perjalanan setelah ini akan semakin mudah.
Tetapi Bunda tahu satu hal:
Selama Tuhan masih memberikan napas, Bunda akan terus mencoba.
Jika jatuh, bangun.
Jika menangis, usap air mata.
Jika gagal, belajar lagi.
Jika lelah, istirahat sebentar.
Kemudian berjalan lagi.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit masalahnya.
Hidup adalah tentang siapa yang tetap memilih melangkah meskipun tahu jalannya tidak mudah.
Dan Bunda Eva...
masih berjalan.
Bukan karena tidak terluka.
Bukan karena tidak takut.
Bukan karena tidak lelah.
Tetapi karena di depan sana ada dua putri yang ingin ia lihat tumbuh menjadi perempuan hebat.
Ayunda dan Anggun.
Untuk kalian, Bunda akan terus berjuang.
Sampai suatu hari nanti, perjuangan yang hari ini terasa berat berubah menjadi cerita yang bisa kita kenang bersama sambil tersenyum.
“Ternyata kita berhasil melewati semuanya.” ❤️
— Bunda Eva
PANTASKAN DIRI UNTUK DAPAT PASANGAN YANG SETARA
Cara Mendapatkan Pasangan yang Setara
Mendapatkan pasangan yang setara bukan tentang mencari seseorang yang sempurna. Bukan pula tentang mencari orang yang memiliki segala sesuatu lebih tinggi daripada kita. Pasangan yang setara adalah seseorang yang bisa berjalan berdampingan—bukan di depan untuk mendominasi, dan bukan pula di belakang untuk selalu mengikuti.
Namun, sebelum mencari pasangan yang setara, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku sudah menjadi pasangan yang setara bagi orang lain?”
Sebab, sering kali kita ingin mendapatkan seseorang yang dewasa, tetapi kita sendiri belum selesai dengan luka dan emosi kita. Kita menginginkan seseorang yang stabil, tetapi masih bergantung pada validasi orang lain. Kita berharap mendapatkan pasangan yang menghargai kita, tetapi belum belajar menghargai diri sendiri.
Kesetaraan dimulai dari dalam diri.
Belajarlah mengenali siapa diri kita, apa yang kita inginkan, apa yang tidak bisa kita kompromikan, dan seperti apa kehidupan yang ingin kita bangun. Ketika kita memiliki arah hidup yang jelas, kita tidak akan mudah menerima seseorang hanya karena takut sendirian.
Jangan mencari pasangan hanya karena ingin memiliki seseorang. Carilah seseorang yang memiliki nilai hidup yang bisa berjalan searah dengan kita.
Perhatikan bagaimana ia memperlakukan orang lain, bagaimana ia menghadapi masalah, bagaimana ia berbicara ketika marah, bagaimana ia menghormati batasan, dan apakah ia mampu bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang “aku suka kamu dan kamu suka aku.”
Lebih dari itu, hubungan yang sehat berbicara tentang:
“Apakah kita bisa saling menghormati?”
“Apakah kita bisa bertumbuh bersama?”
“Apakah kita bisa menyelesaikan masalah tanpa saling merendahkan?”
“Apakah kita memiliki visi kehidupan yang cukup sejalan?”
Jangan hanya terpikat oleh perhatian di awal. Perhatikan konsistensinya.
Seseorang bisa sangat romantis ketika sedang mengejar kita. Tetapi karakter seseorang justru lebih terlihat ketika hubungan mulai menghadapi perbedaan, tekanan, kekecewaan, dan masalah.
Pasangan yang setara tidak selalu memiliki pendapat yang sama. Mereka tetap bisa berbeda. Tetapi perbedaan tidak digunakan untuk menjatuhkan satu sama lain.
Ia tidak merasa harus selalu menang. Kita pun tidak harus selalu mengalah.
Keduanya belajar mengatakan, “Aku mungkin berbeda denganmu, tetapi aku tetap menghargaimu.”
Untuk mendapatkan pasangan seperti itu, kita juga perlu berhenti mengejar hubungan yang membuat kita terus mempertanyakan nilai diri sendiri.
Jika seseorang membuat kita merasa harus terus membuktikan bahwa kita layak dicintai, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan seberapa keras kita harus berusaha, tetapi apakah hubungan itu memang sehat untuk kita.
Jangan mengejar seseorang sampai kehilangan diri sendiri.
Pasangan yang setara tidak membuat kita menjadi versi kecil dari diri kita. Ia justru memberikan ruang agar kita tetap menjadi diri sendiri, sambil bersama-sama berkembang menjadi lebih baik.
Karena pada akhirnya, pasangan yang baik bukan seseorang yang datang untuk “melengkapi kekurangan” kita.
Kita bukan setengah manusia yang membutuhkan setengah manusia lainnya agar menjadi utuh.
Kita sudah utuh sebagai pribadi.
Pasangan hadir bukan untuk menyelamatkan hidup kita, tetapi untuk berbagi kehidupan yang sudah kita bangun dengan sadar.
Jadi, jika ingin mendapatkan pasangan yang setara, mulailah dengan membangun diri yang setara dengan pasangan yang kita impikan.
Jadilah pribadi yang bertanggung jawab, punya batasan, mampu berkomunikasi, berani mengatakan tidak, mampu mencintai tanpa kehilangan diri sendiri, dan tidak takut meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Kemudian, bersabarlah.
Tidak semua orang yang datang harus dipertahankan. Tidak semua perhatian harus dibalas dengan hubungan. Dan tidak semua orang yang kita cintai adalah orang yang tepat untuk kita.
Kita tidak membutuhkan banyak pilihan. Kita membutuhkan satu orang yang tepat untuk berjalan bersama.
Seseorang yang bisa berkata:
“Aku tidak ingin mengendalikan hidupmu. Aku ingin berjalan bersamamu.”
Dan kita pun bisa menjawab:
“Aku tidak membutuhkanmu untuk menyelamatkanku. Aku ingin kita saling mendukung, saling menghargai, dan tumbuh bersama.”
Itulah hubungan yang setara.
Bukan tentang siapa yang lebih tinggi.
Bukan tentang siapa yang lebih banyak berkorban.
Tetapi tentang dua orang yang sama-sama memilih untuk hadir, bertumbuh, menghargai, dan menjaga satu sama lain.
Karena pasangan yang setara bukan sekadar ditemukan. Ia dipertemukan dengan diri yang juga sudah belajar menjadi setara.
Selamat membaca semoga bermanfaat ๐
Selasa, 25 Agustus 2026
MARI TINGKATKAN LITERASI
Guru, Buku yang Berjalan
Puji syukur ke hadirat Allah SWT.
Alhamdulillah, hari ini saya diberi kesempatan untuk mengajar di sebuah SD Negeri. Walaupun status saya masih Non-ASN, saya tetap bersyukur, karena bagi saya menjadi guru bukan sekadar tentang status, jabatan, ataupun seberapa besar penghasilan yang diterima.
Menjadi guru adalah tentang sebuah cita-cita yang pernah saya tuliskan dalam hati sejak kecil.
Dulu, saya hanya seorang anak yang bermimpi sederhana: suatu hari nanti saya ingin menjadi seorang guru.
Dan hari ini, ketika saya berdiri di depan anak-anak dan mengajar mereka, saya sering terdiam dalam hati.
"Ya Allah… ternyata doa kecil yang dulu hanya menjadi mimpi, kini benar-benar Engkau izinkan menjadi kenyataan."
Bagi saya, guru adalah buku yang berjalan.
Guru bukan hanya seseorang yang berdiri di depan kelas dan menjelaskan pelajaran, tetapi seseorang yang membawa banyak cerita, pengalaman, perjuangan, kegagalan, dan pembelajaran hidup.
Dan mungkin karena itulah saya sangat mencintai buku.
Buku adalah teman baik di segala musim.
Ketika saya sedang bahagia, buku menemani saya bertumbuh.
Ketika saya bingung, buku memberi saya arah.
Ketika saya terjatuh, buku membantu saya berdiri.
Bahkan ketika hidup membawa saya pada titik paling terpuruk, ada halaman-halaman buku yang diam-diam menguatkan saya.
Tidak pernah menghakimi.
Tidak pernah memarahi.
Tidak pernah bertanya mengapa saya gagal.
Ia hanya membuka halaman demi halaman dan memberikan saya sesuatu yang mungkin sedang saya butuhkan.
Dari sekian banyak buku, buku tentang bisnis dan motivasi menjadi salah satu yang paling saya sukai. Dari sana saya belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa berani kita kembali mencoba.
Saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan.
Kegagalan hanyalah satu bab yang tidak boleh membuat kita berhenti membaca seluruh buku kehidupan.
Bagi saya, buku bahkan terkadang bisa menjadi peran pengganti seorang ibu.
Bukan berarti buku dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu. Tidak.
Tetapi ketika ada seseorang yang mungkin tidak mendapatkan pelukan, nasihat, atau ketenangan yang ia harapkan di rumah, buku bisa menjadi tempat untuk mencari jawaban.
Ketika rumah terasa terlalu bising oleh kemarahan,
bukalah buku.
Ketika hati terasa penuh dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa,
bacalah buku.
Ketika hidup terasa kehilangan arah,
carilah ilmu.
Sebab terkadang, satu halaman buku mampu menyelamatkan seseorang dari keputusan yang salah.
Jangan biarkan keadaan di rumah menentukan seluruh masa depanmu.
Kalau hari ini kamu belum mendapatkan nasihat yang kamu butuhkan dari orang-orang di sekitarmu, jangan berhenti mencari.
Carilah ilmu.
Carilah guru.
Carilah buku.
Carilah lingkungan yang membuatmu bertumbuh.
Karena hidup terlalu berharga jika hanya dijalani dengan mengikuti luka.
Dan mungkin inilah alasan saya ingin menjadi seorang guru.
Saya ingin menjadi seperti buku yang pernah menolong saya.
Saya ingin menjadi seseorang yang ketika anak-anak sedang kehilangan arah, mereka menemukan sedikit cahaya dari apa yang saya ajarkan.
Saya ingin mereka tahu bahwa hidup mereka jauh lebih besar daripada keadaan mereka hari ini.
Status saya mungkin masih Non-ASN.
Tetapi saya tidak ingin status itu membuat saya merasa kecil.
Karena bagi saya, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika namanya tercantum dalam sebuah jabatan.
Keberhasilan seorang guru adalah ketika suatu hari nanti ada seorang murid yang berkata,
“Bu, terima kasih. Dulu Ibu pernah mengatakan sesuatu kepada saya. Dan ternyata kalimat itu yang membuat saya tidak menyerah.”
Jika suatu hari kalimat itu benar-benar saya dengar,
mungkin saat itulah saya akan merasa…
cita-cita saya sejak kecil benar-benar telah Allah sempurnakan.
Karena saya tidak hanya ingin menjadi guru yang mengajarkan pelajaran.
Saya ingin menjadi buku yang berjalan—yang meninggalkan ilmu, semangat, dan arah di setiap langkah anak-anak yang pernah saya temui.
Dan semoga, dari setiap ilmu yang saya ajarkan, ada kebaikan yang terus hidup bahkan ketika saya sudah tidak lagi berdiri di depan kelas.
Aamiin.
_Bu guru Eva Muflikha
KENALILAH AKU
Kenalilah Aku, Jangan Hanya Mencintaiku
Kenalilah aku mulai sekarang.
Aku adalah seorang single mom, seorang ibu dari tiga anak perempuan.
Anak pertamaku bernama Aisyah.
Ia pernah hadir membawa begitu banyak warna dalam hidupku, lalu Allah memanggilnya pulang ketika usianya masih begitu belia, 3 tahun 8 bulan.
Aisyah memang sudah tidak lagi tumbuh di sisiku, tetapi namanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam doa, dan di tempat paling dalam yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.
Kemudian ada Ayunda Zhafira, putriku yang kedua.
Dan Anggun Nusaibah, putri ketigaku.
Mereka adalah bagian dari hidupku, bagian dari alasan mengapa sampai hari ini aku masih memilih untuk kuat, meskipun sebenarnya aku juga pernah sangat lelah.
Aku bukan perempuan yang datang tanpa masa lalu.
Aku memiliki banyak luka.
Aku memiliki banyak trauma.
Ada bagian-bagian dari hidupku yang tidak mudah untuk diceritakan.
Ada hal-hal yang mungkin jika kamu mengetahuinya, akan membuatmu bertanya-tanya,
"Bagaimana mungkin dia masih bisa tersenyum setelah melewati semua itu?"
Aku juga tidak selalu kuat.
Aku pernah menangis diam-diam.
Pernah kecewa.
Pernah merasa sendirian.
Pernah bertanya kepada Allah, mengapa jalan hidupku harus seperti ini.
Tetapi luka tidak lantas membuatku menjadi perempuan yang pasrah.
Trauma tidak membuatku berhenti menjalani hidup.
Dan kehilangan tidak membuatku berhenti percaya kepada Allah.
Aku memilih tetap berdiri.
Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap menjadi ibu.
Tetap bermimpi.
Tetap berusaha memperbaiki diri.
Dan yang paling penting, aku tetap belajar bersyukur atas apa pun yang Allah SWT gariskan dalam takdir hidupku.
Karena aku percaya, tidak semua yang terasa berat adalah sesuatu yang buruk.
Kadang-kadang Allah memberikan kita jalan yang panjang bukan karena Dia ingin menyulitkan, tetapi karena ada banyak hal yang harus kita pelajari sepanjang perjalanan.
Jadi, kalau suatu hari ada seseorang yang ingin memilihku sebagai pasangan hidup, aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya:
Jangan memilihku hanya karena aku cantik.
Eh… siapa juga yang bilang aku cantik?
Wkwkwk.
Jangan memilihku hanya karena aku terlihat mandiri.
Jangan pula memilihku hanya karena bersamaku kamu merasa nyaman.
Dan jangan memilihku hanya karena kamu takut kehilangan aku.
Karena semua itu bisa berubah.
Kecantikan bisa memudar.
Rasa nyaman bisa diuji.
Kemandirian tidak berarti aku tidak membutuhkan seseorang.
Dan rasa takut kehilangan belum tentu berarti benar-benar mencintai.
Seumur hidup itu lama.
Pernikahan bukan perjalanan beberapa bulan.
Bukan hanya tentang makan bersama, jalan-jalan bersama, tertawa bersama, atau mengunggah foto berdua.
Pernikahan adalah tentang bagaimana kita tetap saling memilih ketika hidup tidak lagi mudah.
Tentang bagaimana kamu memperlakukanku ketika aku sedang lelah.
Tentang bagaimana aku memperlakukanmu ketika kamu sedang jatuh.
Tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah ketika sedang marah.
Tentang bagaimana kita tetap menjaga lisan ketika emosi sedang tinggi.
Tentang bagaimana kita tetap saling menghormati meskipun sedang berbeda pendapat.
Dan tentang bagaimana kita tetap menggenggam tangan satu sama lain ketika kehidupan sedang tidak sesuai dengan harapan.
Maka, kenalilah aku lebih dalam.
Jangan hanya mengenal perempuan yang bisa tersenyum.
Kenali juga perempuan yang terkadang terlalu banyak berpikir.
Kenali perempuan yang punya ketakutan-ketakutan tertentu karena masa lalunya.
Kenali perempuan yang mungkin membutuhkan waktu untuk percaya sepenuhnya.
Kenali caraku ketika sedang marah.
Kenali caraku ketika sedang kecewa.
Kenali caraku ketika sedang lelah.
Kenali caraku mencintai.
Kenali pula caraku meminta maaf.
Kenali sisi baikku, tetapi jangan tutup mata terhadap sisi burukku.
Kenali kekuranganku sebelum kamu berjanji akan mencintaiku selamanya.
Sebab aku tidak ingin dicintai karena sebuah bayangan tentang diriku yang kamu ciptakan sendiri.
Aku ingin dicintai setelah kamu benar-benar tahu siapa aku.
Aku ingin seseorang yang tidak hanya berkata,
"Aku menerima masa lalumu."
Tetapi juga mampu berkata,
"Aku tahu masa lalumu, aku tahu lukamu, aku tahu kekuranganmu, dan aku tetap memilih untuk berjalan bersamamu."
Aku tidak mencari seseorang yang datang untuk menyelamatkanku.
Aku sudah belajar menyelamatkan diriku sendiri.
Aku hanya ingin seseorang yang bersedia berjalan bersamaku, bukan mengendalikanku.
Seseorang yang bisa menjadi tempat pulang, bukan tempat aku kembali terluka.
Seseorang yang ketika marah tidak menjadikanku musuh.
Seseorang yang ketika kecewa tidak menghukumku dengan diam, penghinaan, perselingkuhan, atau tindakan yang menghancurkan kepercayaan.
Seseorang yang tahu bahwa marah bukan alasan untuk berhenti menghormati.
Dan jika suatu hari nanti kamu telah melihat semuanya…
Kamu sudah melihat aku sebagai seorang ibu.
Sudah mengetahui kisah Aisyah.
Sudah mengenal Ayunda dan Anggun.
Sudah memahami masa laluku.
Sudah melihat trauma dan lukaku.
Sudah mengetahui sifat baik dan burukku.
Sudah tahu bahwa aku tidak sempurna.
Namun setelah semua itu kamu masih berkata,
"Aku tetap ingin bersamamu."
Maka mungkin…
itu bukan lagi sekadar rasa kagum.
Bukan sekadar nyaman.
Bukan pula perasaan sesaat.
Mungkin setelah mengenal seluruh bagian diriku, kamu benar-benar sadar bahwa aku adalah perempuan yang ingin kamu pilih.
Dan kalau memang demikian, aku hanya berharap…
jangan mencintaiku hanya ketika aku mudah dicintai.
Cintailah aku juga ketika aku sedang belajar menjadi lebih baik.
Karena aku tidak menjanjikan kehidupan yang sempurna.
Aku hanya bisa menjanjikan satu hal:
Jika Allah mengizinkan kita berjalan bersama, aku akan berusaha menjadikan perjalanan itu sebagai tempat kita sama-sama bertumbuh, saling menjaga, saling menghormati, dan saling menguatkan sampai akhir.
Sebab aku sudah terlalu banyak melewati kehilangan.
Kali ini, jika harus memilih seseorang untuk berjalan bersamaku sampai tua…
aku tidak ingin memilih karena sekadar jatuh cinta.
Aku ingin memilih seseorang yang setelah mengenal seluruh diriku,
masih ingin tinggal.
Dan aku pun ingin menjadi perempuan yang setelah mengenal seluruh dirinya,
tetap memilihnya.
_Eva Muflikha