Diary Depresiku: Ketika Aku Harus Memilih Melupakan
Malam ini aku kembali menulis tentang seseorang yang sebenarnya ingin sekali kuhapus dari pikiranku.
Bukan karena aku sudah tidak sayang.
Justru karena aku masih terlalu sayang, sampai-sampai setiap kali mencoba melupakan, hatiku kembali mencari alasan untuk mengingat.
Aku lelah.
Lelah berpura-pura baik-baik saja.
Lelah membuka ponsel dan berharap ada namamu di sana.
Lelah menunggu sesuatu yang mungkin memang tidak akan pernah datang.
Dan yang paling melelahkan adalah berperang dengan pikiranku sendiri—antara ingin bertahan atau belajar melepaskan.
Ada bagian dari diriku yang masih ingin percaya bahwa suatu hari semuanya akan menjadi seperti yang kuharapkan. Tapi ada bagian lain yang semakin sadar bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.
Mungkin inilah bentuk kehilangan yang paling menyakitkan:
ketika seseorang masih hidup, masih bisa ditemui, masih bisa berbicara dengan kita, tetapi kita harus belajar menjalani hari seolah-olah dia tidak lagi menjadi bagian dari hidup kita.
Aku harus memilih melupakan.
Bukan karena kenangan itu tidak berarti.
Bukan karena perasaanku tiba-tiba hilang.
Tetapi karena aku mulai mengerti bahwa terus menggenggam sesuatu yang tidak pasti hanya akan membuatku kehilangan diriku sendiri.
Malam-malam menjadi panjang.
Aku menangis diam-diam.
Terkadang aku merindukanmu tanpa alasan.
Terkadang aku ingin menghubungimu, lalu mengurungkan niat karena aku tahu, mungkin aku hanya akan kembali terluka.
Aku bahkan harus belajar membiasakan diri dengan sepi yang sebelumnya tidak pernah kupilih.
Hari ini aku sedang belajar mengikhlaskan seseorang yang masih ada di dalam hati.
Aku tahu melupakan tidak bisa dilakukan dalam satu malam.
Mungkin besok aku masih akan mengingatmu.
Lusa mungkin aku masih merindukanmu.
Dan mungkin suatu hari nanti namamu masih akan muncul di kepalaku tanpa sengaja.
Tidak apa-apa.
Aku tidak harus membenci untuk bisa melepaskan.
Aku tidak harus menghapus semua kenangan untuk bisa melanjutkan hidup.
Aku hanya perlu berhenti berharap pada sesuatu yang tidak memberiku kepastian.
Jika suatu hari aku benar-benar berhasil melupakanmu, semoga aku tidak mengingatmu sebagai seseorang yang pernah menghancurkanku.
Aku ingin mengingatmu sebagai seseorang yang pernah hadir, pernah membuatku bahagia, pernah mengajarkanku tentang cinta—dan akhirnya mengajarkanku bahwa mencintai diri sendiri terkadang berarti berani pergi.
Malam ini aku menangis lagi.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak menangis agar kamu kembali.
Aku menangis karena sedang belajar menerima kenyataan bahwa mungkin kamu memang harus kulepaskan.
Dan jika besok aku masih merindukanmu, aku akan mengingatkan diriku sendiri:
“Aku boleh merindukanmu, tetapi aku tidak harus kembali kepadamu.”
Karena kali ini, aku ingin memilih diriku sendiri.
Pelan-pelan.
Sampai suatu hari nanti, namamu tidak lagi membuat dadaku sesak.
Sampai kenangan tentangmu hanya menjadi halaman lama dalam diary hidupku—yang pernah kubaca dengan air mata, tetapi tidak lagi membuatku ingin kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar