Kenalilah Aku, Jangan Hanya Mencintaiku
Kenalilah aku mulai sekarang.
Aku adalah seorang single mom, seorang ibu dari tiga anak perempuan.
Anak pertamaku bernama Aisyah.
Ia pernah hadir membawa begitu banyak warna dalam hidupku, lalu Allah memanggilnya pulang ketika usianya masih begitu belia, 3 tahun 8 bulan.
Aisyah memang sudah tidak lagi tumbuh di sisiku, tetapi namanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam doa, dan di tempat paling dalam yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.
Kemudian ada Ayunda Zhafira, putriku yang kedua.
Dan Anggun Nusaibah, putri ketigaku.
Mereka adalah bagian dari hidupku, bagian dari alasan mengapa sampai hari ini aku masih memilih untuk kuat, meskipun sebenarnya aku juga pernah sangat lelah.
Aku bukan perempuan yang datang tanpa masa lalu.
Aku memiliki banyak luka.
Aku memiliki banyak trauma.
Ada bagian-bagian dari hidupku yang tidak mudah untuk diceritakan.
Ada hal-hal yang mungkin jika kamu mengetahuinya, akan membuatmu bertanya-tanya,
"Bagaimana mungkin dia masih bisa tersenyum setelah melewati semua itu?"
Aku juga tidak selalu kuat.
Aku pernah menangis diam-diam.
Pernah kecewa.
Pernah merasa sendirian.
Pernah bertanya kepada Allah, mengapa jalan hidupku harus seperti ini.
Tetapi luka tidak lantas membuatku menjadi perempuan yang pasrah.
Trauma tidak membuatku berhenti menjalani hidup.
Dan kehilangan tidak membuatku berhenti percaya kepada Allah.
Aku memilih tetap berdiri.
Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap menjadi ibu.
Tetap bermimpi.
Tetap berusaha memperbaiki diri.
Dan yang paling penting, aku tetap belajar bersyukur atas apa pun yang Allah SWT gariskan dalam takdir hidupku.
Karena aku percaya, tidak semua yang terasa berat adalah sesuatu yang buruk.
Kadang-kadang Allah memberikan kita jalan yang panjang bukan karena Dia ingin menyulitkan, tetapi karena ada banyak hal yang harus kita pelajari sepanjang perjalanan.
Jadi, kalau suatu hari ada seseorang yang ingin memilihku sebagai pasangan hidup, aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya:
Jangan memilihku hanya karena aku cantik.
Eh… siapa juga yang bilang aku cantik?
Wkwkwk.
Jangan memilihku hanya karena aku terlihat mandiri.
Jangan pula memilihku hanya karena bersamaku kamu merasa nyaman.
Dan jangan memilihku hanya karena kamu takut kehilangan aku.
Karena semua itu bisa berubah.
Kecantikan bisa memudar.
Rasa nyaman bisa diuji.
Kemandirian tidak berarti aku tidak membutuhkan seseorang.
Dan rasa takut kehilangan belum tentu berarti benar-benar mencintai.
Seumur hidup itu lama.
Pernikahan bukan perjalanan beberapa bulan.
Bukan hanya tentang makan bersama, jalan-jalan bersama, tertawa bersama, atau mengunggah foto berdua.
Pernikahan adalah tentang bagaimana kita tetap saling memilih ketika hidup tidak lagi mudah.
Tentang bagaimana kamu memperlakukanku ketika aku sedang lelah.
Tentang bagaimana aku memperlakukanmu ketika kamu sedang jatuh.
Tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah ketika sedang marah.
Tentang bagaimana kita tetap menjaga lisan ketika emosi sedang tinggi.
Tentang bagaimana kita tetap saling menghormati meskipun sedang berbeda pendapat.
Dan tentang bagaimana kita tetap menggenggam tangan satu sama lain ketika kehidupan sedang tidak sesuai dengan harapan.
Maka, kenalilah aku lebih dalam.
Jangan hanya mengenal perempuan yang bisa tersenyum.
Kenali juga perempuan yang terkadang terlalu banyak berpikir.
Kenali perempuan yang punya ketakutan-ketakutan tertentu karena masa lalunya.
Kenali perempuan yang mungkin membutuhkan waktu untuk percaya sepenuhnya.
Kenali caraku ketika sedang marah.
Kenali caraku ketika sedang kecewa.
Kenali caraku ketika sedang lelah.
Kenali caraku mencintai.
Kenali pula caraku meminta maaf.
Kenali sisi baikku, tetapi jangan tutup mata terhadap sisi burukku.
Kenali kekuranganku sebelum kamu berjanji akan mencintaiku selamanya.
Sebab aku tidak ingin dicintai karena sebuah bayangan tentang diriku yang kamu ciptakan sendiri.
Aku ingin dicintai setelah kamu benar-benar tahu siapa aku.
Aku ingin seseorang yang tidak hanya berkata,
"Aku menerima masa lalumu."
Tetapi juga mampu berkata,
"Aku tahu masa lalumu, aku tahu lukamu, aku tahu kekuranganmu, dan aku tetap memilih untuk berjalan bersamamu."
Aku tidak mencari seseorang yang datang untuk menyelamatkanku.
Aku sudah belajar menyelamatkan diriku sendiri.
Aku hanya ingin seseorang yang bersedia berjalan bersamaku, bukan mengendalikanku.
Seseorang yang bisa menjadi tempat pulang, bukan tempat aku kembali terluka.
Seseorang yang ketika marah tidak menjadikanku musuh.
Seseorang yang ketika kecewa tidak menghukumku dengan diam, penghinaan, perselingkuhan, atau tindakan yang menghancurkan kepercayaan.
Seseorang yang tahu bahwa marah bukan alasan untuk berhenti menghormati.
Dan jika suatu hari nanti kamu telah melihat semuanya…
Kamu sudah melihat aku sebagai seorang ibu.
Sudah mengetahui kisah Aisyah.
Sudah mengenal Ayunda dan Anggun.
Sudah memahami masa laluku.
Sudah melihat trauma dan lukaku.
Sudah mengetahui sifat baik dan burukku.
Sudah tahu bahwa aku tidak sempurna.
Namun setelah semua itu kamu masih berkata,
"Aku tetap ingin bersamamu."
Maka mungkin…
itu bukan lagi sekadar rasa kagum.
Bukan sekadar nyaman.
Bukan pula perasaan sesaat.
Mungkin setelah mengenal seluruh bagian diriku, kamu benar-benar sadar bahwa aku adalah perempuan yang ingin kamu pilih.
Dan kalau memang demikian, aku hanya berharap…
jangan mencintaiku hanya ketika aku mudah dicintai.
Cintailah aku juga ketika aku sedang belajar menjadi lebih baik.
Karena aku tidak menjanjikan kehidupan yang sempurna.
Aku hanya bisa menjanjikan satu hal:
Jika Allah mengizinkan kita berjalan bersama, aku akan berusaha menjadikan perjalanan itu sebagai tempat kita sama-sama bertumbuh, saling menjaga, saling menghormati, dan saling menguatkan sampai akhir.
Sebab aku sudah terlalu banyak melewati kehilangan.
Kali ini, jika harus memilih seseorang untuk berjalan bersamaku sampai tua…
aku tidak ingin memilih karena sekadar jatuh cinta.
Aku ingin memilih seseorang yang setelah mengenal seluruh diriku,
masih ingin tinggal.
Dan aku pun ingin menjadi perempuan yang setelah mengenal seluruh dirinya,
tetap memilihnya.
_Eva Muflikha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar