Kamis, 08 Oktober 2026
JANGAN BIARKAN AMARAH MENANG
MENYALAKAN KESADARAN DIRI
Senin, 05 Oktober 2026
KENAPA SETELAH TERSENYUM HARUS ADA TANGIS?
Kenapa ya, setiap kali selesai tersenyum bahagia, tidak lama kemudian ada saja alasan untuk menangis?
Seolah-olah bahagia hanya diberi waktu sebentar, lalu kehidupan kembali mengajarkan kita tentang rasa kehilangan, kecewa, rindu, atau sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.
Kenapa harus menangis?
Mungkin karena manusia memang tidak diciptakan untuk selalu kuat.
Ada kalanya hati yang terlalu lama menahan, akhirnya membutuhkan air mata untuk melepaskan semuanya.
Menangis bukan berarti bahagia kita sebelumnya palsu.
Bukan juga berarti kita lemah.
Kadang, kita menangis justru karena pernah begitu bahagia. Karena kita takut kehilangan rasa itu. Karena kita sadar bahwa tidak semua hal indah bisa tinggal selamanya.
Hidup memang seperti itu.
Hari ini kita tertawa, besok mungkin menangis.
Hari ini hati terasa penuh, esok mungkin terasa kosong.
Dan setelah air mata mengering, mungkin akan ada alasan lain untuk tersenyum lagi.
Jadi, kalau hari ini kamu menangis setelah kemarin begitu bahagia, jangan merasa hidup sedang tidak adil.
Menangislah jika memang perlu.
Biarkan air mata jatuh.
Biarkan hati beristirahat.
Sebab setelah tangisan selesai, kita akan belajar lagi bahwa hidup bukan tentang selalu bahagia, tetapi tentang mampu menerima setiap rasa yang datang.
Tertawa dan menangis adalah bagian dari perjalanan.
Dan mungkin, justru karena kita pernah menangis, kita jadi lebih menghargai arti sebuah senyuman.
Jadi tidak apa-apa menangis hari ini.
Besok, kita coba tersenyum lagi. 🤍
-EVA MUFLIKHA
Jumat, 02 Oktober 2026
AKU BELAJAR SEMBUH DARI ANXIETY
Aku dan Anxiety yang Tidak Selalu Terlihat
Tidak semua luka terlihat dari luar.
Ada hari-hari ketika aku terlihat baik-baik saja. Masih bisa tersenyum, bekerja, berbicara dengan orang lain, bahkan bercanda seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi di dalam kepala, ada begitu banyak hal yang sedang berisik.
Aku hidup dengan anxiety, sebuah kecemasan yang terkadang datang tanpa aku minta. Ada saatnya aku sendiri tidak mengerti mengapa tubuh dan pikiranku bereaksi seperti itu.
Aku bisa tiba-tiba merasa gelisah.
Memikirkan sesuatu berulang-ulang.
Takut terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
Sulit tidur karena kepala tidak berhenti membuat berbagai kemungkinan.
Jantung berdebar, dada terasa tidak nyaman, tubuh tegang, napas terasa berbeda.
Dan yang paling melelahkan adalah ketika pikiranku terus bertanya:
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"
"Bagaimana kalau aku gagal?"
"Bagaimana kalau semuanya menjadi lebih buruk?"
Kadang aku tahu bahwa pikiranku sedang berlebihan. Tetapi mengetahui hal itu tidak selalu membuat rasa cemas langsung menghilang.
Ciri-ciri yang sering aku rasakan
Setiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda. Namun beberapa hal yang sering muncul ketika kecemasan datang adalah:
- Pikiran terus memikirkan kemungkinan buruk.
- Sulit merasa tenang meskipun sebenarnya tidak sedang menghadapi bahaya.
- Jantung berdebar.
- Napas terasa cepat atau tidak nyaman.
- Tubuh terasa tegang atau gemetar.
- Sulit tidur karena pikiran terus berjalan.
- Sulit berkonsentrasi.
- Mudah lelah dan merasa kewalahan.
- Mudah panik atau takut.
- Keinginan untuk menghindari situasi tertentu karena merasa tidak nyaman.
Aku belajar bahwa aku tidak harus memusuhi diriku sendiri hanya karena mengalami semua itu.
Lalu, bagaimana aku menghadapinya?
Ketika anxiety datang, aku belajar berhenti sejenak.
Aku mencoba menarik napas perlahan dan mengembuskannya dengan tenang. Aku mengingatkan diriku bahwa tidak semua hal yang ada di kepala harus menjadi kenyataan.
Aku belajar membedakan:
mana yang bisa aku kendalikan, dan mana yang harus aku lepaskan.
Aku juga mencoba menjaga tidur, makan lebih teratur, bergerak atau berolahraga ringan, dan mengurangi hal-hal yang membuat tubuh semakin mudah gelisah.
Kalau pikiran terlalu penuh, aku menulisnya.
Kalau hati terlalu berat, aku mencoba bercerita kepada orang yang aku percaya.
Dan ketika kecemasan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, tidur, atau kehidupan sehari-hari, aku belajar bahwa mencari bantuan psikolog atau psikiater bukanlah sesuatu yang memalukan.
Aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Aku mungkin masih belajar berdamai dengan anxiety.
Masih ada hari ketika aku merasa kuat.
Ada juga hari ketika aku merasa sangat lelah.
Tapi sekarang aku tahu satu hal:
Aku bukan anxiety-ku.
Aku adalah seseorang yang sedang belajar memahami dirinya sendiri, merawat pikirannya, dan berjalan pelan-pelan menuju keadaan yang lebih tenang.
Tidak apa-apa kalau hari ini aku hanya mampu berjalan sedikit.
Yang penting, aku tetap memilih untuk melanjutkan perjalanan.
Pelan-pelan saja. Aku sedang belajar sembuh, bukan belajar menjadi sempurna.
_EVA MUFLIKHA