BUNDA, AYUNDA, DAN ANGGUN
Perjuangan yang Tidak Selalu Terlihat
Ada seorang bunda yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Bukan perjuangan yang indah seperti yang sering terlihat di media sosial.
Bukan tentang foto tersenyum dengan tulisan “strong woman” di bawahnya.
Perjuangannya jauh lebih nyata dari itu.
Tentang bagaimana membayar kebutuhan hidup ketika pemasukan tidak selalu cukup.
Tentang tagihan yang tetap datang meskipun hati sedang ingin beristirahat.
Tentang memikirkan kebutuhan anak ketika dirinya sendiri sebenarnya sedang membutuhkan banyak hal.
Tentang harus tetap terlihat tenang ketika di dalam kepala ada begitu banyak yang sedang dipikirkan.
Namanya Bunda Eva.
Dan ada dua alasan yang membuatnya tidak boleh menyerah:
Ayunda dan Anggun.
Dua putrinya.
Dua anak yang mungkin tidak pernah benar-benar tahu seberapa keras Bundanya berusaha menjaga kehidupan mereka tetap berjalan.
Ada hari ketika Bunda Eva harus menghitung uang berkali-kali.
Mana yang harus dibayar lebih dulu.
Mana yang bisa ditunda.
Mana yang harus dibeli.
Mana yang harus dikesampingkan.
Kadang bukan karena tidak mau memberikan.
Tetapi karena memang harus memilih.
Dan menjadi seorang ibu adalah belajar membuat pilihan-pilihan sulit tanpa memperlihatkan kepada anak bahwa sebenarnya hati sedang penuh dengan kekhawatiran.
Ada kebutuhan sekolah.
Ada kebutuhan rumah.
Ada kebutuhan sehari-hari.
Ada persoalan masa lalu yang belum semuanya selesai.
Ada tanggung jawab yang terkadang datang bersamaan.
Sementara Bunda Eva hanya memiliki dua tangan.
Dan dua tangan itu harus cukup untuk memeluk anak-anaknya sekaligus membereskan kehidupannya sendiri.
Pernah ada saat ketika ia merasa,
“Kenapa semuanya harus saya hadapi sendiri?”
Pertanyaan itu mungkin pernah muncul.
Bahkan lebih dari sekali.
Tetapi setelah itu ia kembali diam.
Karena ia tahu, menangis boleh.
Mengeluh sesekali boleh.
Tetapi kehidupan tidak akan berhenti hanya karena dirinya sedang lelah.
Besok tetap pagi.
Kebutuhan tetap harus dipenuhi.
Ayunda dan Anggun tetap membutuhkan seorang bunda yang hadir.
Maka ia bangun lagi.
Berusaha lagi.
Bekerja lagi.
Mengurus lagi.
Dan menjalani lagi.
Begitulah perjuangan yang sering tidak terlihat.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada orang yang tahu berapa kali seorang ibu harus menguatkan dirinya sendiri dalam satu hari.
Bunda Eva juga pernah takut.
Takut tidak mampu.
Takut masa depan tidak sesuai harapan.
Takut mengambil keputusan yang salah.
Takut jika suatu hari dirinya sakit, siapa yang akan mengurus kedua putrinya?
Ketakutan-ketakutan itu terkadang datang diam-diam.
Terutama ketika malam sudah sepi.
Ketika Ayunda dan Anggun sudah tidur.
Saat tidak ada lagi yang harus ia layani.
Saat itulah seorang bunda berhadapan dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin di situlah air mata paling sering jatuh.
Bukan karena ia tidak bersyukur.
Tetapi karena menjadi kuat terlalu lama juga melelahkan.
Namun, pagi selalu datang.
Dan Bunda Eva kembali menjadi Bunda Eva yang dikenal kedua putrinya.
Tersenyum.
Berbicara.
Mengurus rumah.
Mencari jalan keluar.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal semalam ia mungkin baru saja menangis.
Begitulah seorang ibu.
Sering kali ia menyembunyikan lelahnya bukan karena tidak membutuhkan pertolongan, tetapi karena terlalu terbiasa menjadi orang yang harus menyelesaikan semuanya.
Dan Bunda Eva sedang belajar untuk tidak malu mengatakan:
“Saya juga lelah.”
Karena ternyata, menjadi kuat bukan berarti harus memikul semuanya seorang diri.
Menjadi kuat juga berarti berani mengakui bahwa dirinya manusia.
Bisa takut.
Bisa sedih.
Bisa kecewa.
Bisa kehilangan arah.
Tetapi tetap memilih untuk bangkit.
Ada satu hal yang paling Bunda Eva takutkan:
Bukan hidup susah.
Bukan hidup sendirian.
Bukan memulai kembali dari nol.
Tetapi jika perjuangannya membuat Ayunda dan Anggun merasa bahwa mereka tidak memiliki kehidupan yang layak.
Karena itu, ia terus berusaha.
Bukan untuk terlihat hebat.
Bukan untuk membuktikan kepada siapa pun bahwa ia mampu.
Tetapi karena ia ingin kedua putrinya tumbuh dengan keyakinan bahwa kehidupan memang tidak selalu mudah, tetapi selalu ada jalan untuk diperjuangkan.
Ia ingin Ayunda dan Anggun belajar bahwa perempuan tidak harus menunggu seseorang datang untuk menyelamatkannya.
Perempuan boleh dicintai.
Boleh memiliki pasangan.
Boleh bersandar.
Tetapi harus tetap memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kakinya sendiri.
Karena Bunda Eva pernah belajar dari kehidupan:
Jangan menggantungkan seluruh masa depan kepada manusia.
Manusia bisa berubah.
Keadaan bisa berubah.
Janji bisa berubah.
Tetapi seorang ibu harus tetap mampu menata hidupnya ketika semuanya berubah.
Bunda Eva mungkin masih memiliki banyak kekurangan.
Ia belum sempurna.
Ia masih belajar mengelola emosi.
Masih belajar berbicara dengan lebih baik.
Masih belajar mengatur kehidupan.
Masih belajar menjadi ibu yang lebih baik.
Tetapi satu hal yang tidak pernah berhenti ia lakukan:
berusaha.
Untuk Ayunda.
Untuk Anggun.
Untuk dirinya sendiri.
Dan untuk kehidupan yang ingin ia bangun kembali.
Kelak, ketika Ayunda dan Anggun sudah dewasa, mungkin mereka akan melihat kembali perjalanan Bundanya.
Mungkin baru saat itu mereka mengerti bahwa senyum Bunda mereka ternyata menyimpan begitu banyak cerita.
Bahwa ada tagihan yang pernah membuatnya berpikir keras.
Ada malam-malam penuh kekhawatiran.
Ada keputusan sulit yang harus dibuat sendirian.
Ada hari ketika Bunda mereka ingin menyerah, tetapi memilih bangun karena mereka.
Dan mungkin suatu hari mereka akan berkata:
"Bunda ternyata sekuat itu, ya..."
Tidak.
Bunda Eva tidak selalu kuat.
Bunda Eva hanya tidak punya pilihan untuk menyerah selamanya.
Karena ada dua anak yang membuatnya ingin terus melihat hari esok.
Ayunda dan Anggun.
Dua putri yang mungkin tidak tahu bahwa dalam banyak keadaan, merekalah yang membuat Bundanya tetap berdiri.
Maka jika suatu hari nanti Ayunda dan Anggun membaca tulisan ini, Bunda ingin kalian tahu:
Bunda tidak berjuang karena kalian adalah beban.
Justru sebaliknya.
Kalian adalah alasan mengapa setiap beban terasa layak untuk diperjuangkan.
Bunda tidak tahu akan seperti apa masa depan.
Bunda tidak tahu apakah perjalanan setelah ini akan semakin mudah.
Tetapi Bunda tahu satu hal:
Selama Tuhan masih memberikan napas, Bunda akan terus mencoba.
Jika jatuh, bangun.
Jika menangis, usap air mata.
Jika gagal, belajar lagi.
Jika lelah, istirahat sebentar.
Kemudian berjalan lagi.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit masalahnya.
Hidup adalah tentang siapa yang tetap memilih melangkah meskipun tahu jalannya tidak mudah.
Dan Bunda Eva...
masih berjalan.
Bukan karena tidak terluka.
Bukan karena tidak takut.
Bukan karena tidak lelah.
Tetapi karena di depan sana ada dua putri yang ingin ia lihat tumbuh menjadi perempuan hebat.
Ayunda dan Anggun.
Untuk kalian, Bunda akan terus berjuang.
Sampai suatu hari nanti, perjuangan yang hari ini terasa berat berubah menjadi cerita yang bisa kita kenang bersama sambil tersenyum.
“Ternyata kita berhasil melewati semuanya.” ❤️
— Bunda Eva
Tidak ada komentar:
Posting Komentar