Aku Memilih Mundur
Aku lebih memilih mundur daripada harus berbagi cinta dengan wanita lain.
Bukan karena aku merasa paling pantas dicintai sendirian. Bukan pula karena aku takut bersaing. Tetapi karena aku sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa cinta yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang berebut tempat di hati orang yang sama.
Aku tidak ingin menjadi seseorang yang harus bertanya, “Hari ini kamu memilih aku atau dia?”
Aku tidak ingin hidup dalam kecemasan, menunggu kabar sambil membayangkan ada perempuan lain yang juga sedang mendapatkan perhatian yang sama.
Kalau sejak awal hatimu sudah terbagi, aku memilih untuk tidak memaksakan diri menjadi bagian dari cerita itu.
Aku mungkin akan terluka ketika memilih pergi. Akan ada rindu, akan ada malam-malam ketika aku ingin kembali, bahkan mungkin ada penyesalan. Tetapi setidaknya aku tidak kehilangan diriku sendiri hanya demi mempertahankan seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Aku ingin dicintai dengan utuh.
Bukan menjadi pilihan ketika yang lain tidak ada.
Bukan menjadi tempat pulang setelah dia selesai mencari.
Bukan menjadi seseorang yang harus menerima kenyataan bahwa cintanya dibagi dengan perempuan lain.
Kalau mencintaimu berarti aku harus mengorbankan harga diriku, maka biarlah aku belajar melepaskan.
Karena terkadang, bentuk cinta yang paling dewasa bukan tentang seberapa kuat kita bertahan, tetapi tentang keberanian untuk berkata:
“Aku mencintaimu, tetapi aku tidak mau kehilangan diriku hanya karena ingin memilikimu.”
Maka jika harus memilih antara bertahan dalam cinta yang terbagi atau mundur dengan hati yang terluka, aku akan memilih mundur.
Sebab aku percaya, aku berhak mendapatkan cinta yang jelas, setia, dan tidak membuatku merasa sedang berkompetisi dengan siapa pun. ❤️
Tidak ada komentar:
Posting Komentar