Selasa, 25 Agustus 2026

MARI TINGKATKAN LITERASI


Guru, Buku yang Berjalan

Puji syukur ke hadirat Allah SWT.
Alhamdulillah, hari ini saya diberi kesempatan untuk mengajar di sebuah SD Negeri. Walaupun status saya masih Non-ASN, saya tetap bersyukur, karena bagi saya menjadi guru bukan sekadar tentang status, jabatan, ataupun seberapa besar penghasilan yang diterima.

Menjadi guru adalah tentang sebuah cita-cita yang pernah saya tuliskan dalam hati sejak kecil.

Dulu, saya hanya seorang anak yang bermimpi sederhana: suatu hari nanti saya ingin menjadi seorang guru.
Dan hari ini, ketika saya berdiri di depan anak-anak dan mengajar mereka, saya sering terdiam dalam hati.

"Ya Allah… ternyata doa kecil yang dulu hanya menjadi mimpi, kini benar-benar Engkau izinkan menjadi kenyataan."

Bagi saya, guru adalah buku yang berjalan.
Guru bukan hanya seseorang yang berdiri di depan kelas dan menjelaskan pelajaran, tetapi seseorang yang membawa banyak cerita, pengalaman, perjuangan, kegagalan, dan pembelajaran hidup.

Dan mungkin karena itulah saya sangat mencintai buku.

Buku adalah teman baik di segala musim.

Ketika saya sedang bahagia, buku menemani saya bertumbuh.
Ketika saya bingung, buku memberi saya arah.
Ketika saya terjatuh, buku membantu saya berdiri.
Bahkan ketika hidup membawa saya pada titik paling terpuruk, ada halaman-halaman buku yang diam-diam menguatkan saya.

Tidak pernah menghakimi.
Tidak pernah memarahi.
Tidak pernah bertanya mengapa saya gagal.

Ia hanya membuka halaman demi halaman dan memberikan saya sesuatu yang mungkin sedang saya butuhkan.

Dari sekian banyak buku, buku tentang bisnis dan motivasi menjadi salah satu yang paling saya sukai. Dari sana saya belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa berani kita kembali mencoba.

Saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan.
Kegagalan hanyalah satu bab yang tidak boleh membuat kita berhenti membaca seluruh buku kehidupan.

Bagi saya, buku bahkan terkadang bisa menjadi peran pengganti seorang ibu.

Bukan berarti buku dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu. Tidak.

Tetapi ketika ada seseorang yang mungkin tidak mendapatkan pelukan, nasihat, atau ketenangan yang ia harapkan di rumah, buku bisa menjadi tempat untuk mencari jawaban.

Ketika rumah terasa terlalu bising oleh kemarahan,
bukalah buku.

Ketika hati terasa penuh dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa,
bacalah buku.

Ketika hidup terasa kehilangan arah,
carilah ilmu.

Sebab terkadang, satu halaman buku mampu menyelamatkan seseorang dari keputusan yang salah.

Jangan biarkan keadaan di rumah menentukan seluruh masa depanmu.

Kalau hari ini kamu belum mendapatkan nasihat yang kamu butuhkan dari orang-orang di sekitarmu, jangan berhenti mencari.

Carilah ilmu.
Carilah guru.
Carilah buku.
Carilah lingkungan yang membuatmu bertumbuh.

Karena hidup terlalu berharga jika hanya dijalani dengan mengikuti luka.

Dan mungkin inilah alasan saya ingin menjadi seorang guru.

Saya ingin menjadi seperti buku yang pernah menolong saya.

Saya ingin menjadi seseorang yang ketika anak-anak sedang kehilangan arah, mereka menemukan sedikit cahaya dari apa yang saya ajarkan.

Saya ingin mereka tahu bahwa hidup mereka jauh lebih besar daripada keadaan mereka hari ini.

Status saya mungkin masih Non-ASN.

Tetapi saya tidak ingin status itu membuat saya merasa kecil.

Karena bagi saya, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika namanya tercantum dalam sebuah jabatan.

Keberhasilan seorang guru adalah ketika suatu hari nanti ada seorang murid yang berkata,

“Bu, terima kasih. Dulu Ibu pernah mengatakan sesuatu kepada saya. Dan ternyata kalimat itu yang membuat saya tidak menyerah.”

Jika suatu hari kalimat itu benar-benar saya dengar,
mungkin saat itulah saya akan merasa…

cita-cita saya sejak kecil benar-benar telah Allah sempurnakan.

Karena saya tidak hanya ingin menjadi guru yang mengajarkan pelajaran.

Saya ingin menjadi buku yang berjalan—yang meninggalkan ilmu, semangat, dan arah di setiap langkah anak-anak yang pernah saya temui.

Dan semoga, dari setiap ilmu yang saya ajarkan, ada kebaikan yang terus hidup bahkan ketika saya sudah tidak lagi berdiri di depan kelas.

Aamiin.

_Bu guru Eva Muflikha 

KENALILAH AKU


Kenalilah Aku, Jangan Hanya Mencintaiku

Kenalilah aku mulai sekarang.

Aku adalah seorang single mom, seorang ibu dari tiga anak perempuan.

Anak pertamaku bernama Aisyah.
Ia pernah hadir membawa begitu banyak warna dalam hidupku, lalu Allah memanggilnya pulang ketika usianya masih begitu belia, 3 tahun 8 bulan.

Aisyah memang sudah tidak lagi tumbuh di sisiku, tetapi namanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam doa, dan di tempat paling dalam yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.

Kemudian ada Ayunda Zhafira, putriku yang kedua.

Dan Anggun Nusaibah, putri ketigaku.

Mereka adalah bagian dari hidupku, bagian dari alasan mengapa sampai hari ini aku masih memilih untuk kuat, meskipun sebenarnya aku juga pernah sangat lelah.

Aku bukan perempuan yang datang tanpa masa lalu.

Aku memiliki banyak luka.
Aku memiliki banyak trauma.
Ada bagian-bagian dari hidupku yang tidak mudah untuk diceritakan.

Ada hal-hal yang mungkin jika kamu mengetahuinya, akan membuatmu bertanya-tanya,
"Bagaimana mungkin dia masih bisa tersenyum setelah melewati semua itu?"

Aku juga tidak selalu kuat.

Aku pernah menangis diam-diam.
Pernah kecewa.
Pernah merasa sendirian.
Pernah bertanya kepada Allah, mengapa jalan hidupku harus seperti ini.

Tetapi luka tidak lantas membuatku menjadi perempuan yang pasrah.

Trauma tidak membuatku berhenti menjalani hidup.

Dan kehilangan tidak membuatku berhenti percaya kepada Allah.

Aku memilih tetap berdiri.

Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap menjadi ibu.
Tetap bermimpi.
Tetap berusaha memperbaiki diri.

Dan yang paling penting, aku tetap belajar bersyukur atas apa pun yang Allah SWT gariskan dalam takdir hidupku.

Karena aku percaya, tidak semua yang terasa berat adalah sesuatu yang buruk.

Kadang-kadang Allah memberikan kita jalan yang panjang bukan karena Dia ingin menyulitkan, tetapi karena ada banyak hal yang harus kita pelajari sepanjang perjalanan.

Jadi, kalau suatu hari ada seseorang yang ingin memilihku sebagai pasangan hidup, aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya:

Jangan memilihku hanya karena aku cantik.

Eh… siapa juga yang bilang aku cantik?
Wkwkwk.

Jangan memilihku hanya karena aku terlihat mandiri.

Jangan pula memilihku hanya karena bersamaku kamu merasa nyaman.

Dan jangan memilihku hanya karena kamu takut kehilangan aku.

Karena semua itu bisa berubah.

Kecantikan bisa memudar.
Rasa nyaman bisa diuji.
Kemandirian tidak berarti aku tidak membutuhkan seseorang.
Dan rasa takut kehilangan belum tentu berarti benar-benar mencintai.

Seumur hidup itu lama.

Pernikahan bukan perjalanan beberapa bulan.
Bukan hanya tentang makan bersama, jalan-jalan bersama, tertawa bersama, atau mengunggah foto berdua.

Pernikahan adalah tentang bagaimana kita tetap saling memilih ketika hidup tidak lagi mudah.

Tentang bagaimana kamu memperlakukanku ketika aku sedang lelah.

Tentang bagaimana aku memperlakukanmu ketika kamu sedang jatuh.

Tentang bagaimana kita menyelesaikan masalah ketika sedang marah.

Tentang bagaimana kita tetap menjaga lisan ketika emosi sedang tinggi.

Tentang bagaimana kita tetap saling menghormati meskipun sedang berbeda pendapat.

Dan tentang bagaimana kita tetap menggenggam tangan satu sama lain ketika kehidupan sedang tidak sesuai dengan harapan.

Maka, kenalilah aku lebih dalam.

Jangan hanya mengenal perempuan yang bisa tersenyum.

Kenali juga perempuan yang terkadang terlalu banyak berpikir.

Kenali perempuan yang punya ketakutan-ketakutan tertentu karena masa lalunya.

Kenali perempuan yang mungkin membutuhkan waktu untuk percaya sepenuhnya.

Kenali caraku ketika sedang marah.

Kenali caraku ketika sedang kecewa.

Kenali caraku ketika sedang lelah.

Kenali caraku mencintai.

Kenali pula caraku meminta maaf.

Kenali sisi baikku, tetapi jangan tutup mata terhadap sisi burukku.

Kenali kekuranganku sebelum kamu berjanji akan mencintaiku selamanya.

Sebab aku tidak ingin dicintai karena sebuah bayangan tentang diriku yang kamu ciptakan sendiri.

Aku ingin dicintai setelah kamu benar-benar tahu siapa aku.

Aku ingin seseorang yang tidak hanya berkata,

"Aku menerima masa lalumu."

Tetapi juga mampu berkata,

"Aku tahu masa lalumu, aku tahu lukamu, aku tahu kekuranganmu, dan aku tetap memilih untuk berjalan bersamamu."

Aku tidak mencari seseorang yang datang untuk menyelamatkanku.

Aku sudah belajar menyelamatkan diriku sendiri.

Aku hanya ingin seseorang yang bersedia berjalan bersamaku, bukan mengendalikanku.

Seseorang yang bisa menjadi tempat pulang, bukan tempat aku kembali terluka.

Seseorang yang ketika marah tidak menjadikanku musuh.

Seseorang yang ketika kecewa tidak menghukumku dengan diam, penghinaan, perselingkuhan, atau tindakan yang menghancurkan kepercayaan.

Seseorang yang tahu bahwa marah bukan alasan untuk berhenti menghormati.

Dan jika suatu hari nanti kamu telah melihat semuanya…

Kamu sudah melihat aku sebagai seorang ibu.
Sudah mengetahui kisah Aisyah.
Sudah mengenal Ayunda dan Anggun.
Sudah memahami masa laluku.
Sudah melihat trauma dan lukaku.
Sudah mengetahui sifat baik dan burukku.
Sudah tahu bahwa aku tidak sempurna.

Namun setelah semua itu kamu masih berkata,

"Aku tetap ingin bersamamu."

Maka mungkin…

itu bukan lagi sekadar rasa kagum.

Bukan sekadar nyaman.

Bukan pula perasaan sesaat.

Mungkin setelah mengenal seluruh bagian diriku, kamu benar-benar sadar bahwa aku adalah perempuan yang ingin kamu pilih.

Dan kalau memang demikian, aku hanya berharap…

jangan mencintaiku hanya ketika aku mudah dicintai.

Cintailah aku juga ketika aku sedang belajar menjadi lebih baik.

Karena aku tidak menjanjikan kehidupan yang sempurna.

Aku hanya bisa menjanjikan satu hal:

Jika Allah mengizinkan kita berjalan bersama, aku akan berusaha menjadikan perjalanan itu sebagai tempat kita sama-sama bertumbuh, saling menjaga, saling menghormati, dan saling menguatkan sampai akhir.

Sebab aku sudah terlalu banyak melewati kehilangan.

Kali ini, jika harus memilih seseorang untuk berjalan bersamaku sampai tua…

aku tidak ingin memilih karena sekadar jatuh cinta.

Aku ingin memilih seseorang yang setelah mengenal seluruh diriku,
masih ingin tinggal.

Dan aku pun ingin menjadi perempuan yang setelah mengenal seluruh dirinya,
tetap memilihnya.

_Eva Muflikha 


PUNYA PASANGAN TAPI SENDIRIAN


PUNYA PASANGAN, TAPI SEPERTI TIDAK PUNYA PASANGAN

Yang paling melelahkan bukan hidup sendirian.
Yang paling melelahkan adalah punya pasangan, tetapi tetap merasa sendirian.

Punya seseorang untuk disebut pasangan, tetapi tidak punya tempat untuk merasa nyaman.

Punya seseorang di samping kita, tetapi hati tidak pernah benar-benar merasa aman.

Punya pasangan, tetapi harus selalu berhati-hati karena sedikit saja salah bicara, emosinya meledak.

Punya pasangan, tetapi mudah percaya hoaks, mudah terprovokasi, dan sering bereaksi sebelum mencari tahu kebenarannya.

Punya pasangan, tetapi dalam banyak hal masih merasa harus melakukan semuanya sendiri.

Lalu untuk apa?

Apa bedanya punya pasangan dengan tidak punya pasangan, kalau pada akhirnya semua beban tetap harus dipikul sendirian?

Jangan salah.

Pasangan memang bukan manusia yang harus selalu ada 24 jam untuk kita.

Pasangan juga bukan seseorang yang harus menyelesaikan seluruh masalah hidup kita.

Tetapi bukankah setidaknya kehadirannya seharusnya membuat hidup terasa sedikit lebih ringan?

Ada tempat untuk bercerita.

Ada seseorang yang bisa diajak berdiskusi.

Ada tangan yang menggenggam ketika keadaan sedang sulit.

Ada hati yang membuat kita merasa, “Tenang, saya tidak sendirian.”

Karena hubungan bukan hanya tentang status.

Bukan sekadar punya seseorang yang bisa dipanggil sayang.

Bukan sekadar foto berdua.

Bukan sekadar status menikah atau memiliki pasangan.

Hubungan adalah tentang rasa.

Rasa nyaman.

Rasa aman.

Rasa dihargai.

Rasa didengarkan.

Dan rasa bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.

Kalau setiap hari kamu merasa sendirian di dalam hubunganmu sendiri, lama-lama bukan hanya tubuh yang lelah.

Hati lelah.

Batin lelah.

Pikiran lelah.

Bahkan mencintai pun terasa seperti sebuah pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Sampai akhirnya kamu bertanya kepada diri sendiri:

"Saya bertahan karena masih bahagia, atau karena takut memulai hidup tanpa dia?"

Pertanyaan itu memang tidak nyaman.

Tetapi terkadang kita membutuhkan pertanyaan yang tidak nyaman untuk menyadari kenyataan yang selama ini kita hindari.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Jalani.

Iya, jalani.

Jalani selama kamu masih mampu.

Jalani sambil melihat apakah hubungan ini masih bisa diperbaiki.

Bicarakan apa yang mengganggu.

Belajar saling memahami.

Berikan kesempatan untuk berubah.

Kalau masih ada kemauan dari kedua belah pihak, perjuangkan.

Kalau masih ada cinta dan masih ada usaha, bertahanlah.

Tetapi jangan lupa menghitung risikonya.

Karena setiap pilihan dalam hidup memiliki konsekuensi.

Bertahan punya risiko.

Pergi juga punya risiko.

Tidak ada keputusan yang sepenuhnya bebas dari rasa sakit.

Yang penting, jangan sampai kamu bertahan hanya karena takut kesepian, sementara di dalam hubungan itu kamu sudah merasa sendirian setiap hari.

Dan jangan pula pergi hanya karena sedang marah.

Belajarlah membedakan antara lelah sesaat dengan hubungan yang memang sudah tidak sehat untuk dipertahankan.

Sebab sesuatu yang berlebihan memang tidak pernah baik.

Marah berlebihan.

Curiga berlebihan.

Mengontrol berlebihan.

Bicara berlebihan.

Menuntut berlebihan.

Bahkan mencintai secara berlebihan sampai kehilangan diri sendiri pun tidak baik.

Maka kalau mencintai pasangan, sederhana saja.

Cintai dengan tulus.

Perhatikan dengan sewajarnya.

Berikan yang terbaik.

Tetapi jangan sampai seluruh kebahagiaanmu bergantung kepadanya.

Jangan sampai ketika dia bahagia, kamu ikut bahagia, tetapi ketika dia berubah, seluruh hidupmu ikut runtuh.

Cintai pasanganmu, tetapi jangan serahkan seluruh kendali atas hidupmu kepadanya.

Karena kalau suatu hari ternyata dia bukan seseorang yang ditakdirkan berjalan bersamamu sampai akhir, kamu masih harus memiliki dirimu sendiri.

Masih bisa berdiri.

Masih bisa berpikir.

Masih bisa bernapas tanpa dirinya.

Masih bisa melanjutkan hidup.

Sebab cinta yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kewarasan.

Mencintai bukan berarti kehilangan diri sendiri.
Bertahan bukan berarti harus terus terluka.
Dan memiliki pasangan bukan berarti harus mengorbankan seluruh hidupmu.

Jadi, jika hari ini kamu sedang lelah dengan hubunganmu, jangan buru-buru mengambil keputusan hanya karena emosi.

Tenangkan diri.

Bicarakan.

Evaluasi.

Lihat apakah masih ada kemauan untuk memperbaiki dari kedua sisi.

Kalau masih ada, perjuangkan.

Kalau sudah tidak ada, mungkin suatu hari kamu harus cukup berani untuk menerima kenyataan.

Karena terkadang, yang paling melelahkan bukan kehilangan seseorang.

Yang paling melelahkan adalah terus mempertahankan seseorang yang membuat kita kehilangan diri sendiri.

Dan satu hal yang jangan pernah kamu lupakan:

Jangan sampai karena terlalu sibuk mempertahankan hubungan, kamu justru kehilangan hubungan dengan dirimu sendiri.

Cintai dia.

Tetapi jangan kehilangan kamu.

Temani dia.

Tetapi jangan tinggalkan dirimu.

Berikan yang terbaik.

Tetapi jangan berikan seluruh hidupmu kepada seseorang sampai ketika dia pergi, kamu tidak tahu lagi bagaimana cara berdiri.

Karena pada akhirnya...

Pasangan seharusnya menjadi teman berjalan, bukan alasan mengapa kita terus-menerus merasa sendirian.

— Eva Muflikha


Kamis, 20 Agustus 2026

JANGAN BERHARAP PADA MANUSIA

Berharap pada sesama manusia hanya akan membuat kita kecewa, harapan dekat dengan kekecewaan,boleh berharap tapi jangan terlalu terobsesi itu hanya akan membuatmu berkali-kali patah,maka selalu sediakan ruang kecewa dalam diri agar ketika Harapan itu tidak sesuai dengan keinginan tidak Terlalu sakit.
Mengharapkan sesuatu yang sudah pasti saja kadang meleset apalagi yang belum ada kepastian, tetap harus memiliki kontrol diri agar tidak terlalu menyenderkan segala sesuatu nya pada manusia termasuk pasangan atau siapapun orang terdekat kita.
Sama halnya seperti Janji yang terkadang juga bisa di ingkari, hanya orang tertentu yang bisa menghargai arti dari sebuah janji dan kesepakatan.
Mudah saja membuat orang kecewa, tak perlu banyak kata tinggal chat saja " Maaf hari ini tidak jadi bertemu" misalnya aja seperti itu.
Kita tidak pernah tahu arti dalamnya kekecewaan yang dirasakan yang mungkin anggapannya sepele, yang mungkin kesepakatan itu tak bermakna baginya, tapi tetaplah slalu sediakan ruang kecewa dalam hati, catatan sederhana ini akan membantu mu mengurangi hal yang dirasa tidak enak, caranya dengan berfikir positif, dan bisa dilihat juga mungkin karena banyaknya kesibukan yang dikerjakan  sehingga harus ada yang diprioritaskan.
Dan itu artinya kamu harus sadar diri bahwa hidup ini bukan tentang kamu saja,ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar senyummu, jadi jangan pernah merasa penting dalam kehidupan seseorang,hari ini mungkin jadi orang yang paling dicintai kita tidak pernah tahu esok masih dicintai atau tidak.
Hidup ini tentang bagaimana kamu bisa mengendalikan diri, agar tidak terlalu sedih terhadap sesuatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kamu...
Tetap keep smile and jangan lupa bahagia 

Oleh Eva Muflikha 

Rabu, 19 Agustus 2026

WANITA KUAT

WANITA KUAT JUGA BOLEH MENANGIS

Wanita kuat bukanlah wanita yang tidak pernah menangis.

Wanita kuat adalah wanita yang habis menangis, kemudian mencuci muka, menarik napas panjang, lalu melanjutkan perjalanan hidupnya.

Bukan berarti lukanya hilang.

Bukan berarti masalahnya selesai.

Tetapi ia tahu bahwa hidup harus tetap berjalan.

Ia mengusap air matanya, kemudian perlahan membereskan hidupnya yang sempat berantakan. Menata kembali apa yang masih bisa ditata. Memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Dan belajar menerima apa yang memang sudah tidak bisa dikembalikan.

Saya merasa bahwa saya adalah salah satu wanita kuat yang pernah ada di bumi ini... hehe. 😁

Bukan ras terkuat yang kalau naik motor, sen kanan tetapi belok kiri, yaa. 🤣

Kacau nanti...

Wkwkwk. 😆

Saya merasa kuat bukan karena saya selalu tahu bagaimana menghadapi kehidupan.

Saya merasa kuat karena saya sudah melalui begitu banyak hal dalam perjalanan hidup saya.

Ada hal-hal yang pernah membuat saya jatuh.

Ada keadaan yang pernah membuat saya menangis.

Ada keputusan-keputusan yang tidak mudah.

Ada masa ketika saya sendiri pun tidak tahu harus mulai dari mana untuk membereskan semuanya.

Tetapi ternyata, saya masih di sini.

Masih berdiri.

Masih belajar.

Masih mencoba tersenyum.

Dan masih memiliki keberanian untuk melangkah.

Bahkan, ada satu hal yang sampai hari ini terkadang masih membuat saya tersenyum sendiri ketika mengingatnya.

Saya pernah duduk di antara mahasiswa dan mahasiswi dari Cirebon yang saat itu sedang melaksanakan KKN di desa saya.

Sederhana, mungkin.

Tetapi bagi saya, itu adalah salah satu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya bisa duduk bersama mereka.

Berbicara.

Berdiskusi.

Dan berada di dalam sebuah ruang yang sebelumnya mungkin tidak pernah saya pikir akan saya masuki.

Dari sana saya belajar bahwa keberanian terkadang datang setelah kita melewati banyak ketakutan.

Berani maju.

Berani berbicara.

Berani tampil di depan orang banyak.

Berani menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran.

Bagi saya, itu juga merupakan bagian dari menjadi wanita kuat.

Meskipun saya sadar, saya masih jauh dari sempurna.

Public speaking saya masih belum tertata dengan baik.

Saya masih perlu banyak belajar.

Masih sering gugup.

Masih sering mencari kata-kata yang tepat.

Begitu juga dengan tulisan-tulisan saya.

Saya tahu masih banyak kekurangan.

Masih banyak yang perlu diperbaiki.

Tetapi bukankah keberanian untuk mencoba juga merupakan bagian dari sebuah proses?

Saya tidak ingin menunggu menjadi sempurna untuk kemudian berani melangkah.

Saya ingin belajar sambil berjalan.

Saya ingin tumbuh sambil mencoba.

Dan saya ingin menjadi diri saya sendiri tanpa harus terlalu sibuk membuktikan kepada siapa pun bahwa saya kuat.

Karena hari ini, saya ingin mengizinkan wanita kuat ini untuk tidak lagi berpura-pura kuat.

Izinkan saya menangis ketika memang ingin menangis.

Izinkan saya mengaku lelah ketika memang sedang lelah.

Izinkan saya mengatakan bahwa terkadang saya juga takut.

Terkadang saya bingung.

Terkadang saya ingin berhenti sebentar.

Karena menjadi wanita kuat bukan berarti harus selalu terlihat baik-baik saja.

Wanita kuat juga boleh melemah.

Yang membedakannya adalah, ketika sudah cukup menangis, ia akan kembali mengusap air matanya.

Mencuci wajahnya.

Menata kembali hatinya.

Kemudian berkata kepada dirinya sendiri:

"Ayo... kita lanjut lagi."

Mungkin hari ini saya belum menjadi wanita yang hebat.

Tetapi saya bangga karena saya adalah wanita yang tidak menyerah pada dirinya sendiri.

Saya pernah hancur, tetapi saya belajar menyusun diri kembali.

Saya pernah kehilangan arah, tetapi saya belajar menemukan jalan lagi.

Saya pernah menangis karena kehidupan, tetapi saya juga belajar tersenyum karena kehidupan.

Dan kalau suatu hari nanti saya kembali menangis, saya tidak akan menganggap diri saya lemah.

Saya akan mengingat bahwa...

air mata tidak pernah menghapus kekuatan seorang wanita.

Kadang-kadang, justru setelah air mata itulah seorang wanita menemukan keberanian terbesarnya untuk kembali berdiri.

Jadi, untuk saya sendiri...

Tidak apa-apa jika hari ini saya tidak sekuat kemarin.

Tidak apa-apa jika saya perlu berhenti sebentar.

Tidak apa-apa jika saya menangis.

Asalkan setelah itu saya kembali melanjutkan perjalanan.

Pelan-pelan.

Satu per satu.

Saya akan membereskan hidup ini kembali.

Karena saya percaya...

wanita kuat bukan wanita yang tidak pernah jatuh.

Wanita kuat adalah wanita yang, setiap kali jatuh, selalu menemukan alasan untuk bangkit lagi.

Dan saya?

Hehe...

Saya masih di sini. Berarti saya masih kuat. ❤️

— Eva Muflikha

AFTER DIVORCE

AFTER DIVORCE

Tahun 2023 yang lalu.

Foto di atas adalah bukti bahwa saya pernah mengambil salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya: bercerai.

Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiran saya bahwa perjalanan rumah tangga saya akan berakhir seperti ini. Saya tidak pernah membayangkan bahwa setelah 12 tahun bersama, pada akhirnya kami harus memilih jalan masing-masing.

Namun, jika saya melihatnya kembali hari ini, mungkin semuanya memang tidak terjadi secara tiba-tiba.

Ada banyak hal kecil yang dibiarkan. Ada masalah yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada persoalan ekonomi yang terus menumpuk. Ada hal-hal kecil yang semakin sulit dibicarakan. Ada hal-hal penting yang justru dianggap sepele.

Semuanya seperti dikumpulkan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya menjadi sebuah bom waktu.

Dua belas tahun bersama bukanlah waktu yang singkat. Seharusnya selama itu kami sudah semakin mengenal satu sama lain, semakin memahami, dan semakin tahu bagaimana cara menjaga satu sama lain.

Namun, ternyata waktu yang panjang tidak selalu menjamin seseorang bisa tetap berjalan bersama.

Pada saat itu, saya merasa seperti hidup saya berjalan mundur.

Saya berlari, tetapi rasanya tetap berada di tempat yang sama. Setiap kali merasa sudah melangkah maju, selalu ada sesuatu yang menarik saya kembali.

Dan ketika akhirnya saya harus berdiri sendiri, jujur, saya merasa takut.

Bukan hanya karena kehilangan pasangan, tetapi karena ada begitu banyak persoalan yang harus saya hadapi sendiri. Ada utang-piutang yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab saya, tetapi akhirnya berada di pundak saya.

Saya tidak tahu bagaimana semuanya akan selesai.

Tetapi saya percaya, saya bisa melewatinya.

Saya percaya saya mampu membayarnya satu per satu. Saya percaya bahwa selama saya masih mau berusaha, selalu ada jalan untuk menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan.

Saya tidak ingin menjelaskan secara detail bagaimana proses perpisahan itu terjadi. Saya rasa, dari tulisan ini pun sudah cukup untuk membuat siapa pun memahami bahwa sebuah pernikahan tidak berakhir hanya karena satu masalah.

Ada banyak hal yang rumit di dalamnya.

Dan tidak semua hal harus saya ceritakan kepada dunia.

Yang paling penting adalah, setelah semuanya berakhir, saya justru menemukan kehidupan saya kembali.

Perlahan-lahan saya bisa menata hidup. Saya bisa melihat masa depan dengan lebih jelas. Saya bisa lebih fokus membangun kehidupan yang baik untuk kedua putri saya.

Ternyata, perceraian bukan akhir dari segalanya.

Kadang, ia memang terasa seperti kehilangan.

Tetapi pada akhirnya, saya belajar bahwa ada hal-hal yang harus dilepaskan agar saya bisa kembali menemukan diri saya sendiri.

Untuk semua single mom, single parent, dan orang tua tunggal yang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing:

Tetaplah kuat.

Mungkin perjalanan kita tidak mudah. Mungkin ada hari-hari ketika kita merasa lelah, takut, bahkan ingin menyerah.

Tetapi percayalah, kita hebat dengan cara kita masing-masing.

Tidak perlu membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Tidak perlu merasa bahwa karena pernah gagal dalam pernikahan, kita menjadi seseorang yang tidak layak dicintai.

Saya pun berharap, suatu hari nanti, jika Tuhan mengizinkan, saya bisa kembali menemukan seseorang yang lebih baik.

Seseorang yang lebih mampu memberikan, lebih perhatian, lebih menenangkan, lebih nyaman untuk diajak berjalan bersama, dan yang paling penting, mampu memberikan rasa aman dari segala sisi.

Aman secara emosional.
Aman dalam komunikasi.
Aman dalam kehidupan.
Aman dalam kepercayaan.
Dan aman untuk menjadi diri sendiri tanpa harus takut kehilangan dirinya.

Karena setelah semua yang saya lalui, saya tidak lagi mencari seseorang hanya untuk mengisi kesepian.

Saya sudah baik-baik saja sendiri.

Saya hanya ingin berjalan bersama seseorang yang membuat hidup ini menjadi lebih baik.

Saya tidak kehilangan hidup saya ketika pernikahan saya berakhir. Saya hanya sedang belajar membangun hidup saya kembali.

Dan hari ini, saya tahu satu hal:

Saya belum selesai. Justru mungkin... ini adalah awal dari kehidupan saya yang sebenarnya.

Aamiin. 🤲🏻

— EVA MUFLIKHA

Selasa, 18 Agustus 2026

RINDU YANG TERTAHAN

 Merindukan seseorang yang belum benar-benar seutuhnya menjadi milik kita memang sangat menguras perasaan hati dan fikiran, apalagi jika hanya salah satunya saja yang merasakan,hanya bisa menahan rindu dari kejauhan, bukan jarak dan waktu yang membuat rindu tapi karena hati perasaan yang saling terpaut,dekat disampingnya ada bahkan terlihat jelas, tapi tidak saling merindukan ini yang berbahaya.

Menjalin sebuah relationship yang fokus pada tujuan akan lebih menenangkan,dari pada harus saling menyakiti tiap hari, hanya akan membuat saling menjauh dan hubungan menjadi lebih rumit,maka dari itu sederhanakan saja kata rindu dengan mengatakan " Ngopi yuk" hehe...

Rindu adalah satu kata yang membuat ribuan makna ingin disampaikan, tapi pada kenyataannya ketika bertemu, tak banyak kata yang tersampaikan hanya saling memandang dan saling melempar senyum satu sama lain.

Untuk pembaca yang sedang merasakan rindu pada pasangan kekasihnya apalagi pasangan Halal nya jangan sungkan dan gengsi untuk menyatakannya...

Satu pesan kata  " RINDU" percayalah itu akan membuat pasanganmu tersenyum bahagia, jalin komunikasi jangan menunggu pasangan memberi kabar,tapi berlomba- lomba lah untuk memberi pesan terlebih dahulu diantara kalian

Rindu yang tak tertahankan akan lebih manis dan indah ketika satu sama lain bisa memberi rasa lewat susuan kata yang bisa menjadi obat penenang bagi rindu yang tak tertahankan.

Oleh Eva muflikha