Guru, Buku yang Berjalan
Puji syukur ke hadirat Allah SWT.
Alhamdulillah, hari ini saya diberi kesempatan untuk mengajar di sebuah SD Negeri. Walaupun status saya masih Non-ASN, saya tetap bersyukur, karena bagi saya menjadi guru bukan sekadar tentang status, jabatan, ataupun seberapa besar penghasilan yang diterima.
Menjadi guru adalah tentang sebuah cita-cita yang pernah saya tuliskan dalam hati sejak kecil.
Dulu, saya hanya seorang anak yang bermimpi sederhana: suatu hari nanti saya ingin menjadi seorang guru.
Dan hari ini, ketika saya berdiri di depan anak-anak dan mengajar mereka, saya sering terdiam dalam hati.
"Ya Allah… ternyata doa kecil yang dulu hanya menjadi mimpi, kini benar-benar Engkau izinkan menjadi kenyataan."
Bagi saya, guru adalah buku yang berjalan.
Guru bukan hanya seseorang yang berdiri di depan kelas dan menjelaskan pelajaran, tetapi seseorang yang membawa banyak cerita, pengalaman, perjuangan, kegagalan, dan pembelajaran hidup.
Dan mungkin karena itulah saya sangat mencintai buku.
Buku adalah teman baik di segala musim.
Ketika saya sedang bahagia, buku menemani saya bertumbuh.
Ketika saya bingung, buku memberi saya arah.
Ketika saya terjatuh, buku membantu saya berdiri.
Bahkan ketika hidup membawa saya pada titik paling terpuruk, ada halaman-halaman buku yang diam-diam menguatkan saya.
Tidak pernah menghakimi.
Tidak pernah memarahi.
Tidak pernah bertanya mengapa saya gagal.
Ia hanya membuka halaman demi halaman dan memberikan saya sesuatu yang mungkin sedang saya butuhkan.
Dari sekian banyak buku, buku tentang bisnis dan motivasi menjadi salah satu yang paling saya sukai. Dari sana saya belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa berani kita kembali mencoba.
Saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan.
Kegagalan hanyalah satu bab yang tidak boleh membuat kita berhenti membaca seluruh buku kehidupan.
Bagi saya, buku bahkan terkadang bisa menjadi peran pengganti seorang ibu.
Bukan berarti buku dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu. Tidak.
Tetapi ketika ada seseorang yang mungkin tidak mendapatkan pelukan, nasihat, atau ketenangan yang ia harapkan di rumah, buku bisa menjadi tempat untuk mencari jawaban.
Ketika rumah terasa terlalu bising oleh kemarahan,
bukalah buku.
Ketika hati terasa penuh dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa,
bacalah buku.
Ketika hidup terasa kehilangan arah,
carilah ilmu.
Sebab terkadang, satu halaman buku mampu menyelamatkan seseorang dari keputusan yang salah.
Jangan biarkan keadaan di rumah menentukan seluruh masa depanmu.
Kalau hari ini kamu belum mendapatkan nasihat yang kamu butuhkan dari orang-orang di sekitarmu, jangan berhenti mencari.
Carilah ilmu.
Carilah guru.
Carilah buku.
Carilah lingkungan yang membuatmu bertumbuh.
Karena hidup terlalu berharga jika hanya dijalani dengan mengikuti luka.
Dan mungkin inilah alasan saya ingin menjadi seorang guru.
Saya ingin menjadi seperti buku yang pernah menolong saya.
Saya ingin menjadi seseorang yang ketika anak-anak sedang kehilangan arah, mereka menemukan sedikit cahaya dari apa yang saya ajarkan.
Saya ingin mereka tahu bahwa hidup mereka jauh lebih besar daripada keadaan mereka hari ini.
Status saya mungkin masih Non-ASN.
Tetapi saya tidak ingin status itu membuat saya merasa kecil.
Karena bagi saya, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika namanya tercantum dalam sebuah jabatan.
Keberhasilan seorang guru adalah ketika suatu hari nanti ada seorang murid yang berkata,
“Bu, terima kasih. Dulu Ibu pernah mengatakan sesuatu kepada saya. Dan ternyata kalimat itu yang membuat saya tidak menyerah.”
Jika suatu hari kalimat itu benar-benar saya dengar,
mungkin saat itulah saya akan merasa…
cita-cita saya sejak kecil benar-benar telah Allah sempurnakan.
Karena saya tidak hanya ingin menjadi guru yang mengajarkan pelajaran.
Saya ingin menjadi buku yang berjalan—yang meninggalkan ilmu, semangat, dan arah di setiap langkah anak-anak yang pernah saya temui.
Dan semoga, dari setiap ilmu yang saya ajarkan, ada kebaikan yang terus hidup bahkan ketika saya sudah tidak lagi berdiri di depan kelas.
Aamiin.
_Bu guru Eva Muflikha