MENYALAKAN KESADARAN DIRI
Ada saatnya kita harus berhenti menyalahkan keadaan, berhenti menunjuk siapa yang salah, dan mulai bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di dalam diriku?”
Menyalakan kesadaran diri bukan berarti merasa paling benar. Justru sebaliknya, kita berani melihat diri sendiri dengan jujur—melihat luka, ego, ketakutan, kebiasaan buruk, cara kita berbicara, cara kita memperlakukan orang lain, bahkan kesalahan yang selama ini sulit kita akui.
Tidak semua masalah datang karena orang lain.
Tidak semua luka disebabkan oleh keadaan.
Dan tidak semua pertengkaran harus dimenangkan.
Kadang yang perlu kita lawan bukan orang yang ada di depan kita, tetapi ego dan emosi yang sedang menguasai diri kita.
Kesadaran diri membuat kita belajar bahwa marah boleh, kecewa boleh, sedih boleh. Tetapi bagaimana kita mengekspresikannya adalah tanggung jawab kita.
Kita boleh tegas tanpa menyakiti.
Boleh kecewa tanpa merendahkan.
Boleh pergi tanpa membenci.
Dan boleh mengatakan “cukup” tanpa harus menjadi jahat.
Karena menjadi dewasa bukan tentang tidak pernah salah.
Menjadi dewasa adalah ketika kita mampu menyadari kesalahan, berani memperbaiki diri, dan tidak mengulangi luka yang sama kepada orang lain.
Jadi, sebelum menuntut orang lain berubah, nyalakan dulu kesadaran di dalam diri sendiri.
Tanyakan pada diri:
Apakah kehadiranku membuat orang merasa aman?
Apakah kata-kataku menyembuhkan atau justru melukai?
Apakah aku sedang menyelesaikan masalah, atau hanya sedang melampiaskan emosi?
Sebab perubahan yang paling nyata sering kali tidak dimulai dari dunia di luar sana.
Ia dimulai dari satu kesadaran kecil di dalam diri:
“Aku juga perlu berubah.”
_EVA MUFLIKHA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar