Aku tidak lagi mencari seseorang yang hanya pandai membuatku jatuh hati.
Aku ingin seseorang yang tahu bagaimana caranya tetap tinggal setelah rasa jatuh cinta itu mulai menjadi kehidupan nyata.
Ia harus datang dengan kesungguhan.
Dengan tanggung jawab.
Dengan konsistensi.
Dengan keberanian untuk memberikan kepastian.
Dengan kemampuan menghargai, bukan hanya pandai membuatku merasa dicintai.
Sebab membuat seseorang jatuh hati itu mudah.
Yang sulit adalah tetap memilih orang yang sama ketika keadaan tidak lagi menyenangkan. Ketika ada perbedaan pendapat. Ketika sedang marah. Ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja. Ketika hubungan membutuhkan kesabaran, komunikasi, pengorbanan, dan kedewasaan.
Aku tidak membutuhkan seseorang yang hanya hadir ketika semuanya indah.
Aku membutuhkan seseorang yang ketika masalah datang, tidak menjadikan pergi sebagai pilihan pertama. Seseorang yang mampu duduk bersama, membicarakan masalah, mencari jalan keluar, dan tetap menjaga harga diri satu sama lain.
Aku sudah tidak tertarik pada cinta yang hanya besar di awal, tetapi perlahan mengecil ketika hubungan mulai membutuhkan perjuangan.
Aku ingin cinta yang tenang, jelas, dan konsisten.
Dan jika ternyata seseorang seperti itu tidak pernah datang?
Tidak apa-apa.
Aku tidak takut lagi menjalani hidup sendiri.
Aku sudah sampai pada titik di mana kesendirian tidak lagi terasa seperti hukuman. Justru terkadang, sendiri membuatku bisa bernapas lebih lega. Tidak perlu menunggu kabar yang tidak pasti. Tidak perlu menebak-nebak perasaan seseorang. Tidak perlu mempertanyakan apakah aku cukup dicintai atau hanya sedang dipertahankan karena kebiasaan.
Aku sudah belajar bahwa lebih baik tidur dengan hati yang tenang daripada terbangun setiap hari di samping seseorang yang membuat hati merasa sendirian.
Aku tidak sedang bersumpah bahwa cinta tidak akan pernah datang lagi.
Aku hanya sedang membuat sebuah janji kepada diriku sendiri:
Jika cinta datang,
biarlah ia datang membawa ketenangan, bukan kecemasan.
Jika seseorang tinggal,
biarlah ia tinggal dengan kepastian, bukan sekadar janji.
Jika seseorang mencintaiku,
biarlah cintanya membuatku merasa aman menjadi diriku sendiri, bukan memaksaku kehilangan diri demi mempertahankan hubungan.
Aku tidak ingin lagi mencintai dengan cara yang membuatku terus-menerus mengorbankan ketenanganku.
Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri meskipun sedang mencintai seseorang.
Dan jika semua yang kuharapkan itu tidak pernah datang?
Aku tetap akan baik-baik saja.
Aku akan tetap menjalani hidup.
Tetap bekerja.
Tetap belajar.
Tetap tertawa.
Tetap membangun mimpi-mimpiku.
Tetap menikmati hari-hari sederhana yang Tuhan berikan.
Karena pada akhirnya, aku tidak membutuhkan seseorang untuk menyelamatkan hidupku.
Aku hanya membutuhkan diriku sendiri untuk terus menjalaninya dengan penuh kesadaran, harga diri, dan rasa syukur.
Kalau suatu hari ada seseorang datang dan mampu berjalan bersamaku dengan cara yang baik, aku akan menghargai kehadirannya.
Tetapi jika tidak ada?
Aku tidak akan memaksa takdir.
Sebab sekarang aku tahu, hidup yang utuh tidak selalu harus diisi oleh pasangan.
Kadang, bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan kepada diri sendiri adalah berani berkata:
“Aku lebih baik sendiri daripada bersama seseorang yang membuatku kehilangan ketenangan, harga diri, dan diriku sendiri.”
Dan jika pada akhirnya aku harus menua seorang diri, semoga aku tetap bisa tersenyum dan berkata:
Aku pernah berharap pada cinta, tetapi aku tidak pernah kehilangan diriku hanya karena cinta.
_Eva Muflikha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar